METRO CEPU – Puluhan penambang sumur minyak rakyat Blora, tepatnya di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, enggan mengirimkan minyak mentah mereka ke Main Gathering Station (MGS) Menggung milik Pertamina EP Field Cepu.
Mereka mengeluhkan harga yang ditetapkan koordinator setempat hanya Rp2.900 per liter, sebuah angka yang dinilai terlalu rendah.
Desa Gandu merupakan bagian dari wilayah kerja Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting, Zona 11 Regional Indonesia Timur, yang dikelola oleh Badan Kerja Sama Usaha (BKU) PT Mataram Connection Nusantara (MCN).
Dari sekitar 15 titik sumur minyak rakyat Blora di Desa Gandu yang berproduksi, sebagian besar penambang memilih menahan produksi.
“Untuk sementara belum ada kepastian. Yang sudah berjalan itu, harganya tetap sama seperti sebelum masuk ke Pertamina, yakni Rp2.900 per liter atau Rp2.900.000 per ton,” ujar Tono, penambang asal Desa Gandu, Rabu 27 Mei 2026.
Menurut Tono, besaran tersebut merupakan harga bersih yang diterima penambang setelah dipotong untuk investor Rp2.000 per liter dan pemilik lahan Rp900 per liter.
Ia mengklaim, minyak yang saat ini diambil oleh MCN baru berasal dari milik Kepala Desa Gandu dan Ketua Paguyuban, Bayan Agus.
“Yang lainnya belum boleh karena harganya tidak cocok,” ujarnya.
Tono juga mengaku belum pernah diajak sosialisasi oleh paguyuban maupun PT Mataram Connection Nusantara. “Belum pernah sama sekali. Nol komunikasi, nol info,” imbuhnya.

Para penambang membandingkan harga di wilayah mereka dengan daerah lain. Mereka menyebut penambang di Ledok, Semanggi, dan Nglobo mendapatkan harga Rp6.500.000 per ton dari Pertamina.
“Penambang amat sangat keberatan. Kami ingin disamakan harganya. Masa kita sama-sama penambang yang membantu PAD, malah masuk ke pengurus ilegal?” tegas Tono.
Hal senada disampaikan Yumanto, penambang lainnya, yang mengaku memiliki stok delapan ton minyak yang belum diambil. “Katanya wilayah lain naik, tapi di sini kok dibeli dengan harga segitu?” ujarnya.
Klaim Ketua Paguyuban: Harga Rp2.900 Tidak Benar, Masih Masa Uji Coba
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Paguyuban Penambang Minyak Sumur Rakyat Gandu, Agus Rumanto (Bayan Agus), dengan tegas membantah harga Rp2.900 per liter yang disampaikan para penambang.
“Itu tidak benar. Harga pastinya mengacu pada harga minyak dunia. Agar lebih jelas, silakan konfirmasi langsung ke pihak Mataram Connection Nusantara,” ujar Agus saat dikonfirmasi, terpisah.
Ia membenarkan bahwa sementara ini minyak yang dikirim ke Pertamina memang berasal dari dirinya dan Kepala Desa Gandu. Namun, alasannya bukan karena harga, melainkan karena produksi penambang lain masih belum mencukupi.
“Yang lain masih belum banyak, hanya punya sedikit. Pengiriman ke Pertamina saat ini masih dalam masa uji coba (trial) dan proses penataan,” imbuhnya.
Agus berjanji bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan mengadakan sosialisasi bersama MCN dan seluruh penambang untuk membahas harga serta mekanisme yang jelas. “Nanti akan kami sosialisasikan semuanya,” pungkasnya.***








Leave a Reply
View Comments