Arsip Kategori: Blora

Kebakaran Penampungan Minyak Sumur Tua Ilegal Desa Gandu Diduga Dari Alkon

METRO CEPU – Kebakaran hebat yang terjadi di lokasi sumur minyak tua illegal di Desa Gandu Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora pada Selasa (6/1/2026) sore diduga kuat berasal dari alkon yang konslet.

Menurut sumber terpercaya, peristiwa tersebut terjadi di penampungan minyak mentah di area sumur minyak.

” Ada 10 bul berisi minyak mentah yang terbakar. Kebakaran tersebut terjadi saat warga akan memindahkan minyak mentah dari bul kedalam deriken yang akan dibawa ke penampungan utama dengan alkon bahan bakar bensin. Kemungkinan alkon konslet,” ujarnya.

Satu unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Api berhasil dipadamkan 1 jam kemudian. Dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.

Lagi, Sumur Minyak Tua Ilegal Gandu Terbakar dan Terdengar Suara Ledakan

METRO CEPU – Kebakaran yang diduga kuat berasal dari aktifitas sumur minyak tua ilegal di Desa Gandu Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora kembali terjadi, Selasa (6/1/2026) sekira pukul 15.45 WIB.

Api tampak membumbung tinggi dan mengeluarkan asap hitam. Lokasi kebakaran kali ini tidak jauh dari lokasi kebakaran sumur minyak tua yang pada bulan Agustus 2025 terbakar dan menelan korban jiwa sebanyak 4 orang meninggal dunia.

Menurut salah satu warga, sempat terjadi suara ledakan. Sehingga membuat warga berlari ketakutan.

” Sempat terdengar suara ledakan dan suara kemratak. Keluarga kami sempat ketakutan,” ujar warga saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (6/1/2026).

Diketahui, keberadaan sumur minyak tua illegal di Gandu berada di wilayah kerja Pertamina Hulu Energi Randugunting. Kuat dugaan sumur-sumur minyak tersebut masih beroperasional dan hasilnya dijual secara ilegal kebeberapa wilayah baik Blora maupun luar Blora. Belum diketahui penyebab dan korban akibat peristiwa tersebut.

Sampai berita ini direlease, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait.

Polres Blora Pastikan Keamanan Wisatawan di Hari Terakhir Libur di Goa Terawang

METRO CEPU – Memasuki hari terakhir libur nasional, Polres Blora mengerahkan pengamanan maksimal atau all out di sejumlah titik keramaian.

Salah satu fokus utama penjagaan berada di Objek Wisata Goa Terawang, Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, guna memastikan situasi tetap kondusif di tengah puncak kunjungan masyarakat, Minggu, 4 januari 2026.

Pengamanan Maksimal Hingga Akhir Liburan

Penerapan pengamanan all out ini melibatkan personel gabungan dari Polres Blora dan Polsek Todanan yang telah disiagakan sejak pagi hari.

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kepadatan volume pengunjung yang biasanya terjadi pada pengujung masa liburan, sekaligus mencegah terjadinya tindak kriminalitas di area wisata.

Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto, melalui Kapolsek Todanan Iptu Suhari, menegaskan bahwa seluruh personel diperintahkan untuk tidak kendur dalam melakukan pengawasan hingga jam operasional wisata berakhir.

“Hari ini merupakan puncak sekaligus hari terakhir libur nasional, sehingga kami melakukan pengamanan secara all out. Personel tidak hanya berjaga, tetapi juga aktif berdialog dengan pengunjung untuk menyampaikan pesan kamtibmas agar momen liburan ini berakhir dengan aman dan berkesan,” ungkap Iptu Suhari.

Pengaturan Lalu Lintas dan Situasi Terkendali

Selain memantau keamanan di dalam area gua, petugas juga melakukan pengaturan arus lalu lintas di jalur akses masuk menuju Goa Terawang Todanan.

Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kemacetan mengingat adanya peningkatan mobilitas kendaraan masyarakat yang hendak kembali ke rutinitas masing-masing.

Hingga sore hari, situasi di kawasan Goa Terawang Blora dilaporkan tetap aman dan terkendali. Masyarakat dapat menikmati keindahan alam dengan tenang berkat kesiapsiagaan personel Polri di lapangan yang terus berjaga hingga seluruh aktivitas wisata selesai. ***

Polres Blora Siagakan Personel Hadapi Arus Balik Nataru 2026

METRO CEPU – Guna menjamin kenyamanan dan keamanan masyarakat, Polres Blora menggelar Apel Kesiapan Pelayanan Arus Balik Libur Nataru 2026 serta pengamanan objek wisata di Mapolres Blora, Jumat 2 Januari 2026, dipimpin langsung oleh Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto.

Kapolres Blora mengapresiasi seluruh jajaran atas terciptanya situasi Kamdimtibmas yang kondusif selama perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru di wilayah Kabupaten Blora.

Namun, ia menegaskan tugas belum usai karena potensi keramaian dan arus balik masih tinggi hingga akhir pekan.

Kapolres memerintahkan pengamanan optimal di sejumlah objek wisata utama yang diprediksi ramai, antara lain Goa Terawang di Kecamatan Todanan, Noyo Gimbal View di Kecamatan Jepon dan Waduk Tempuran di Kecamatan Blora.

Kekuatan personel dari gabungan Satuan Samapta, Lantas, Reskrim, Intelkam, dan Narkoba akan dibagi secara proporsional untuk memastikan pengamanan merata.

AKBP Wawan Andi Susanto meminta personel menjalankan tugas dengan hati gembira, seraya memposisikan diri seperti berlibur sambil memberikan perlindungan.

Lebih lanjut, Kapolres Blora menekankan pentingnya memegang prinsip 5S dalam bertugas: Subur, Sabar, Sholat, Sedekah, dan Silaturahmi.

“Jadilah Polisi yang baik dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Semoga apa yang kita lakukan mendapatkan balasan dari Allah SWT,” tegas AKBP Wawan.

Pelayanan dan pengamanan maksimal akan terus disiagakan hingga Minggu, 4 Januari 2026.

Polres Blora berkomitmen memberikan rasa aman bagi para pemudik yang melintas maupun wisatawan yang berkunjung ke berbagai objek wisata di wilayah hukumnya, sebelum aktivitas masyarakat kembali normal pada Senin, 5 Januari 2026. ***

Kapolres Blora Pimpin Sertijab PJU dan Kenaikan Pangkat 65 Personel

METRO CEPU – Kepolisian Resor (Polres) Blora resmi melakukan rotasi jabatan strategis sekaligus memberikan penghargaan kenaikan pangkat bagi puluhan personelnya.

Upacara ini dipimpin langsung oleh Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, di halaman Mapolres Blora, Rabu 31 Januari 2025 lalu.

Dua agenda tersebut yakni, Serah Terima Jabatan (Sertijab) tiga Pejabat Utama (PJU) dan upacara kenaikan pangkat periode 1 Januari 2026 bagi 65 personel.

Mutasi jabatan di lingkungan Polri merupakan langkah penyegaran organisasi.

Adapun tiga posisi utama yang mengalami pergantian pejabat antara lain, Kabagops Polres Blora kini dijabat oleh AKP Haryono yang sebelumnya menjabat Kabagren, Ps. Kabagren Polres Blora Dijabat oleh AKP Putoro Rambe, yang sebelumnya menjabat Kapolsek Jepon, Ps. Kapolsek Jepon kini diamanahkan kepada Iptu Moh. Junaidi, yang sebelumnya menjabat Kaurbinopsnal Satreskrim.

Kapolres Blora menegaskan bahwa mutasi ini adalah bagian dari pembinaan karier. “Saya ucapkan selamat kepada pejabat baru. Segera menyesuaikan diri dan lanjutkan program-program yang sudah berjalan baik untuk masyarakat,” ujar AKBP Wawan Andi Susanto.

Selain sertijab, sebanyak 65 personel resmi menyandang pangkat setingkat lebih tinggi. Kenaikan pangkat ini didasarkan pada penilaian kinerja, dedikasi, dan loyalitas tanpa cela.

Adapun rincian kenaikan pangkat personel Polres Blora, diantaranya AKP ke Kompol: 1 Personel, ptu ke AKP: 4 Personel, Ipda ke Iptu: 2 Personel, Aipda ke Aiptu: 21 Personel, Bripka ke Aipda: 24 Personel, Briptu ke Brigpol: 10 Personel, dan Bripda ke Briptu: 3 Personel.

Dalam sambutannya, AKBP Wawan Andi Susanto mengingatkan bahwa pangkat baru membawa tanggung jawab yang lebih besar. Ia berharap kenaikan pangkat ini menjadi motivasi untuk memberikan perlindungan dan pengayoman maksimal kepada warga Blora.

“Kenaikan pangkat ini adalah hasil kerja keras rekan-rekan. Dengan pangkat yang baru, tanggung jawab kerja juga harus meningkat. Berikan pelayanan terbaik secara profesional dan humanis,” tegas Kapolres.

Upacara yang dihadiri oleh seluruh PJU dan jajaran Kapolsek ini berlangsung dengan aman dan tertib. Momentum ini diharapkan menjadi awal yang kuat bagi Polres Blora dalam menyongsong tahun 2026 dengan semangat pelayanan yang lebih prima. ***

Setiap Jumat, ASN Blora Kenakan Sarung Batik

METRO CEPU – Ratusan ASN Blora baik PNS maupun PPPK tampak kompak mengenakan pakaian sarung batik, pada Jumat 2 Januari 2026, di halaman Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Blora.

ASN laki-laki mengenakan kemeja putih lengan panjang maupun pendek, dengan bawahan sarung batik khas Blora. Tidak diwajibkan memakai peci, namun memakai atribut ASN lengkap mulai pin korpri, nametag, dan kartu ID ASN.

Sedangkan untuk ASN perempuan, juga mengenakan bawahan kain sarung batik khas Blora. Dengan atasan baju polos lengan panjang dominan putih atau cerah. Bagi yang berjilbab menyesuaikan, lengkap dengan atribut ASN.

Semuanya dengan rapi berbaris mengikuti apel pagi yang dipimpin oleh Asisten Sekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Dasiran.

Tampak, Sekda Komang Gede Irawadi, tampak mengenakan sarung khas Blora bermotif cap jati lestari warga hijau tua, dengan atasan kemeja putih.

“Selamat Tahun Baru 2026 untuk semuanya. Hari pertama masuk kerja ini ada yang baru. Mulai hari ini setiap Jum’at kita semua mengenakan pakaian khas ASN Jawa Tengah,” ucap Dasiran saat memimpin apel.

Dengan sarung batik khas Blora. Kata Dasiran, sebagai wujud melestarikan adat budaya lokal dan mendukung pertumbuhan ekonomi UKM batik Blora.

Sementara itu, Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Bawa Dwi Raharja, menyampaikan, bahwa pakaian ASN bersarung ini bukan pakaian muslim.

Menurut Bawa, ini bukan pakaian muslim. Ini adalah pakaian dinas ASN khas Jawa Tengah. “Oleh karena itu kali ini saya tidak memakai peci. Karena peci bukan hal yang wajib,” ujarnya.

Bagi perempuan yang tidak berhijab, atau bagi non muslim juga bisa menyesuaikan pakai bawahan kain sarung batik.

Setiap Jumat ASN Blora Kenakan Sarung Batik 2

Aturan pemakaian sarung batik khas Blora inipun telah dituangkan dalam Surat Edaran Bupati Blora nomor 025.1/1638 Tahun 2025 yang diterbitkan pada tanggal 30 Desember 2025.

Yang merupakan turunan dari Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah nomor B/800.1.12.25/83/2025 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian Khas ASN.

Sementara itu, Ragil SA., salah satu staf ASN Setda Blora mengaku nyaman memakai pakaian khas sarung daerah. Menurutnya ini menjadi tampilan baru di awal tahun 2026.

“Rasanya ada yang baru saat apel pagi tadi. Seperti mau ikut pesantren kilat. Memang edarannya diminta memakai sarung batik khas Blora. Tetapi karena belum banyak perajin batik Blora yang punya kain sarung jadi. Sehingga hari ini belum banyak yang pakai batik khas Blora. Pakai sarung batik seadanya dulu. Ini saya pakai sarung batik motif sapu jagad. Sambil memesan kain batik khas Blora ke para perajin batik, semoga Minggu depan bisa jadi,” ungkapnya.

Suasana apel pagi dengan bersarung juga tampak di Sekretariat DPRD, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dinas PUPR, dan Kantor Camat Bogorejo.

Terpisah, Yanik Mariana selaku perajin batik khas Blora “Nimas Barokah” mengaku senang ketika mendengar ada edaran penggunaan kain batik khas daerah sebagai sarung ASN.

“Selasa sore lalu, sudah ada beberapa ASN yang datang kesini mau beli sarung batik Blora. Saya tanya untuk apa? Ternyata ada edaran seragam sarung batik khas Blora,” ungkapnya.

Dia dan perajin batik lainnya, menyambut baik edaran ini. Produksi kain sarung dengan motif batik khas Blora akan kami tingkatkan lagi. Beda dengan kain untuk kemeja, untuk sarung ada kainnya khusus.

“Semoga program ini bisa membangkitkan ekonomi UKM batik Blora,” ungkap Yanik Mariana.***

Kado Spesial Tahun Baru: Bupati Blora Raih Penghargaan 10 Kepala Daerah Pro Kebudayaan dari PWI Pusat

METRO CEPU – Bersamaan perayaan malam Tahun Baru 2026, Bupati Blora serta 9 bupati/wali kota di berbagai provinsi, mendapat kado spesial dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, salah satunya Bupati Blora Arief Rohman.

Menurut Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono, kado itu berupa pengumuman babak presentasi, yang merupakan babak terakhir dari serangkaian proses untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, pada puncak perayaan Hari Pers Nasional, di Banten, 9 Februari 2026.

Mencakup Bupati Blora, kesepuluh kepala daerah tersebut dipilih oleh Dewan Juri, setelah menilai berkas proposal, dengan lampirannya yang banyak. Berupa video, PPKD, perda, link berita, foto-foto dokumentasi, dan lainnya.

“Keseluruhan berkas bisa puluhan sampai ratusan halaman. Dan untuk mendalami lebih lanjut kebenaran proposal dan lampirannya itu, masing-masing bupati/wali kota diundang presentasi secara langsung di PWI Pusat,” tutur Yusuf.

Dewan Juri AK PWI – HPN 2026 terdiri 5 orang, berasal dari dalam dan luar PWI Pusat , yakni Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ, penari dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis seni budaya, penerima Anugerah Kebudayaan RI), Sudjiwo Tejo (seniman, budayawan, mantan wartawan, anggota Tim Pakar PWI Pusat), Akhmad Munir (Dirut LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat periode 2025-2030), dan Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, pelukis dan penyair, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat).

Sepuluh kepala daerah tersebut, terdiri dari tiga wali kota, masing-masing Wali kota Malang Provinsi Jawa Timur Wahyu Hidayat, Wali kota Samarinda Kalimantan Timur Andi Harun, dan Wali kota Mataram NTB Mohan Roliskan.

Adapun tujuh yang lain para bupati, masing-masing Bupati Lampung Utara Provinsi Lampung Harmartoni Ahadis, Bupati Temanggung Jawa Tengah Agus Setiawan, Bupati Manggarai Heribertus Geradus Laju Nabit, Bupati Blora Jawa Tengah Arief Rohman, Bupati Labuhanbatu Sumatera Utara Maya Hasmita, Bupati Manokwari Papua Barat Hermus Indou, dan Bupati Padang Pariaman Sumatra Barat John Kenedy.

Yusuf menambahkan, waktu presentasi akan berlangsung tanggal 8-9 Januari 2026. Pada hari pertama, didahului dengan silaturahmi para bupati/wali kota dengan Pengurus PWI Pusat dan para tokoh pers, ditutup dengan pengundian nomer urut dan foto bersama untuk kepentingan buku acara. Kemudian pada hari kedua, presentasi berdasarkan nomor urut yang ada.

“Dalam presentasi itu nanti, Dewan Juri akan mendalami sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaiannya meliputi penguasan materi, gaya dan tehnik presentasi, dan sarana atau peraga pendukung,” tuturnya.

Memang pada saat presentasi, bupati/walikota dibolehkan membawa rombongan, yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat, dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten.

“Akan tetapi mereka tidak boleh membantu bicara. Hanya sebagai saksi,” tambahnya.

AK PWI Pusat 2026 mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga sub tema yang ditawarkan, kebanyakan buati/wali kota memilih sub-tema “Penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif”.

Melalui potensi budaya masing-masing, yang terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, yang ada dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam menilai, dewan juri, menyoroti aspek inovasinya apa, dan dampaknya sejauh mana pada masyarakat lokal, nasional dan global.

Lebih jauh Yusuf menjelaskan, AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB. Dari sekitar 50 bupati/walikota “alumni” Anugerah Kebudayaan PWI Pusat ini, antara lain Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini jadi Gubernur Jawa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kini mantan Menteri PANRB, Wali kota Surabaya Eri Cahyadi. Ada pula yang dianulir karena tertangkap KPK.

Pada tahun kesepuluh ini, selain kategori bupati/wali kota, ditambah satu kategori rintisan, yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitik beratkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang digeluti paling kurang selama 10 tahun, dengan dampaknya nasional hingga internasional.

Mereka mendaftar dengan mengirim proposal, CV, copy kartu pers, bukti tulisan, foto/video kegiatan, dan piagam-piagam. Selain dari bebagai daerah di Pulau Jawa, pesertanya juga dari Pulau Sumatra.

Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Masing-masing Rahmi Hidayati (Tangsel) mantan wartawan Bisnis Indonesia,yang berkiprah sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang tutut perempuan mengangkat kebaya meraih warisan tak benda dunia UNESCO.

Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), dan Henri Nurcahyo (Surabaya) penggerak komunitas Panji dengan jaringannya sampai Asia dan internasional, serta turut berjuang sehingga Panji meraih warisan dunia tak benda dunia UNESCO.***

SE Sudah Terbit, Pemkab Blora Tetapkan Pakaian Khas ASN Mulai 2 Januari 2026

METRO CEPU – Pemerintah Kabupaten Blora (Pemkab Blora) resmi menetapkan penggunaan pakaian khas ASN melalui Surat Edaran Nomor 025.1/1638 Tahun 2025. Kebijakan ini mulai diberlakukan pada 2 Januari 2026 dan dikenakan setiap hari Jumat di lingkungan Pemkab Blora.

Penetapan tersebut bertujuan untuk mengekspresikan identitas ASN dengan ciri khas filosofi Jawa Tengah yang religius, sekaligus selaras dengan semangat modernisasi. Kebijakan ini juga merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor B/800.1.12.5/83/2025 tentang penggunaan pakaian dinas harian khas ASN.

Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman menegaskan bahwa penggunaan pakaian khas ini tidak hanya sebagai seragam kerja, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal, khususnya batik khas Blora, sekaligus memperkuat identitas ASN sebagai pelayan masyarakat.

Pakaian Khas ASN Blora 2026

Dalam surat edaran tersebut, diatur bahwa ASN pria dapat mengenakan beberapa alternatif pakaian khas, antara lain kemeja kerah berdiri atau kerah shanghai, lengan panjang atau pendek, berwarna putih, dipadukan dengan sarung batik khas Blora.

Atasan batik khas Blora, lengan panjang atau pendek, dengan bawahan sarung batik khas Blora. Pakaian khas ASN dilengkapi atribut resmi. Pegawai pria diperbolehkan menggunakan peci. Alas kaki berupa sandal selop, sepatu sandal, atau sepatu.

Sementara itu, bagi ASN wanita, pakaian khas yang ditetapkan meliputi gamis berbahan batik atau dominan batik khas Blora dengan warna bebas tunik atau kemeja polos warna putih dengan bawahan batik khas Blora. Atasan batik khas Blora, lengan panjang atau pendek, dengan bawahan batik khas Blora panjang hingga mata kaki atau di bawah lutut. Pakaian khas dilengkapi atribut resmi.

Pakaian Khas ASN Blora 2026 Cowok

Bagi ASN wanita berjilbab, diwajibkan mengenakan jilbab polos dengan warna menyesuaikan pakaian. Alas kaki berupa sandal selop atau sepatu.

Pemkab Blora memberikan pengecualian penggunaan pakaian khas ASN bagi pegawai yang bertugas di sektor tertentu, yakni bidang perhubungan, Penegakan peraturan daerah dan ketertiban umum, Pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana daerah, Pelayanan kesehatan.

Pengecualian tersebut diberikan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, fungsionalitas, dan kebutuhan pelayanan publik.

Pakaian Khas ASN Blora 2026 Cewek

Bupati Blora juga menginstruksikan kepada seluruh pimpinan perangkat daerah untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penerapan penggunaan pakaian khas ASN di instansi masing-masing agar dilaksanakan dengan baik dan benar.

Surat edaran tersebut ditetapkan di Blora pada 30 Desember 2025 dan ditandatangani langsung oleh Bupati Blora Arief Rohman.

Dengan kebijakan ini, Pemkab Blora berharap nilai-nilai kearifan lokal dapat terus hidup dan menjadi bagian dari budaya kerja ASN di Bumi Samin.****