Arsip Kategori: Sosial Budaya

Desa Janjang Ditetapkan Sebagai Desa Budaya

METRO CEPU – Gelaran tradisi Manganan Janjang tahun ini terasa lebih istimewa bagi masyarakat Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Dalam puncak acara yang berlangsung di kompleks Makam dan Tapaan Mbah Janjang (Jatikusumo-Jatiswara), Jumat 27 Maret 2026, tradisi ini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat nasional.

Bupati Blora, Arief Rohman, hadir langsung menyerahkan sertifikat penetapan dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dengan nomor 169/WB/KB.00.01/2025. Bersamaan dengan itu, Bupati juga menyerahkan SK Bupati Blora Nomor 400.6/487/2025 yang menetapkan Desa Janjang sebagai Desa Budaya.

“Semoga penetapan ini semakin mengukuhkan Desa Janjang sebagai pusat pelestarian budaya di Kabupaten Blora. Ini sudah ‘paten’ dan harus kita lestarikan. Selain menjadi daya tarik wisata religi, status ini harus menjadi pendorong bangkitnya perekonomian desa,” ujar Bupati Arief yang hadir didampingi Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini dan jajaran Forkopimda.

Filosofi Berbagi dalam Bungkus Daun Jati

Manganan Janjang merupakan tradisi sedekah bumi yang rutin digelar setiap Jumat Pon pasca-Lebaran Idulfitri. Ribuan warga dari berbagai daerah—termasuk Jawa Timur hingga Jawa Barat—tampak memadati kompleks makam sejak pagi hari. Mereka datang membawa “ambeng” atau nasi tumpeng lengkap dengan ingkung ayam sebagai wujud syukur atas hasil bumi setahun terakhir.

Keunikan tradisi ini terletak pada proses pembagian makanan. Seluruh sumbangan warga dikumpulkan, ditambah dengan daging dari sapi dan kambing yang disembelih oleh pihak desa, kemudian dimasak bersama dan dibagikan gratis kepada seluruh pengunjung.

Panitia menyediakan ribuan lembar daun jati sebagai pembungkus nasi berkat. Antrean peziarah yang tertib di gazebo utara makam utama menjadi potret kerukunan yang kental. Selama acara berlangsung, alunan Kesenian Wayang Krucil khas Janjang turut mengiringi, menjaga marwah budaya peninggalan Mbah Jatikusumo.

Magnet Wisata Religi dan Penggerak Ekonomi

Kunjungan ribuan peziarah ini membawa dampak ekonomi nyata bagi warga setempat. Bupati Arief yang datang mengendarai Vespa bersama rombongan, sempat berjalan kaki sejauh 300 meter menuju makam utama dan mengamati geliat ratusan pedagang UMKM.

“Luar biasa, ini adalah tradisi sedekah bumi paling ramai di Blora. Akses jalan dari Cabak ke Janjang yang sudah dibangun pemerintah membuat perjalanan semakin nyaman. Kami berharap potensi ini terus ditata lebih baik oleh pemerintah desa,” tambah Bupati.

Salah satu peziarah asal Bojonegoro, Sumirah (56), mengaku rutin hadir untuk mencari keberkahan. “Awalnya hanya ingin ziarah dan mencicipi nasi daun jati yang rasanya sedap. Namun sekarang saya ikut membawa ambeng untuk bersedekah. Acaranya sangat guyub,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Adit (25), warga Rembang yang baru pertama kali hadir. “Ternyata meskipun letaknya di pelosok, tradisinya sangat kuat dan suasananya sejuk. Betah rasanya di sini,” tuturnya.

Harapan Desa Terhindar dari ‘Pagebluk’

Kepala Desa Janjang, Ngasi, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran acara yang tahun ini dinilai lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran Bupati dan rombongan dianggap sebagai suntikan semangat bagi warga desa dalam melestarikan adat.

“Alhamdulillah, cuaca cerah dan pengunjung sangat membeludak. Harapan kami dengan doa bersama dan sedekah ini, Desa Janjang selalu diberikan keselamatan dan jauh dari pagebluk (wabah penyakit),” ujar Ngasi.

Sementara itu, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini atau yang akrab disapa Budhe Rini, mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengikuti Manganan Janjang. “Ternyata ramai sekali dan nasi daun jatinya memang juara, enak khas ‘ndeso’ yang bikin kangen. Tahun depan saya pasti ke sini lagi,” pungkasnya. (red)

Komunitas Bojonegoro History Sukses Gelar Tadarus Sejarah Budaya Bojonegoro

METRO CEPUKomunitas Bojonegoro History sukses menggelar kegiatan Tadarus Sejarah Budaya Bojonegoro dengan tema “Membaca Sejarah Perbatasan Bojonegoro” pada Senin, 16 Maret 2026, di halaman Deulleuda Coffee.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi terbuka yang mempertemukan para pegiat sejarah, komunitas, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Bojonegoro.

Acara yang dimulai pada pukul 16.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang datang dari berbagai daerah, baik dari Bojonegoro maupun luar daerah. Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif hingga waktu berbuka puasa bersama.

Pada sesi awal, Muhammad Yuda Pradana, pegiat Jonegoroan Berdaya Bersama, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun ekosistem komunitas yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Yuda menekankan bahwa komunitas tidak sekadar menjadi ruang berkumpul, tetapi juga harus mampu menjadi wadah kolaborasi, berbagi pengetahuan, serta menciptakan gerakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, keberlanjutan komunitas sangat ditentukan oleh konsistensi kegiatan, keterbukaan terhadap kolaborasi, serta kemampuan merawat jaringan antar pegiat.

Selanjutnya, Founder Bojonegoro History, Muhammad Andrea, memaparkan profil, visi, serta berbagai kegiatan yang telah dijalankan oleh komunitas tersebut.

Ia menjelaskan bahwa Bojonegoro History hadir sebagai ruang literasi sejarah lokal yang berupaya menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerahnya.

“Berbagai kegiatan seperti diskusi sejarah, riset lapangan, hingga publikasi tulisan sejarah lokal menjadi bagian dari upaya komunitas dalam memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sejarah dan kebudayaan Bojonegoro,” kata dia.

Setelah berbuka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi utama bertajuk “Membaca Sejarah Perbatasan Bojonegoro” yang disampaikan oleh Muhamad Margi Anggoro Putra, alumni Jurusan Sejarah dari salah satu perguruan tinggi di Kediri, Jawa Timur.

Dalam pemaparannya, Putra menjelaskan bahwa wilayah perbatasan Bojonegoro dengan beberapa kabupaten tetangga menyimpan jejak sejarah yang cukup kompleks dan menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Ia memaparkan bahwa di beberapa wilayah perbatasan ditemukan berbagai artefak dan peninggalan sejarah, seperti prasasti batu, batu lumpang, batu yoni, hingga lempengan prasasti yang diduga berasal dari masa Majapahit.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan perbatasan Bojonegoro pada masa lampau kemungkinan memiliki peran penting dalam jaringan permukiman, aktivitas ekonomi, maupun praktik keagamaan pada masa klasik Jawa.

Melalui kegiatan ini, Gema Romadhoni selaku panitia diskusi menyampaikan bahwa Komunitas Bojonegoro History berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong tumbuhnya minat masyarakat untuk lebih mengenal sejarah lokal.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka ruang diskusi dan penelitian lebih lanjut mengenai berbagai situs serta temuan sejarah yang ada di wilayah Bojonegoro, khususnya di kawasan perbatasan yang selama ini masih jarang dikaji secara mendalam. (red)

MATRA Blora Gelar Dialog Interaktif Bahas Kemandirian Ekonomi dalam Membangun Rantai Sosial Budaya

METRO CEPU – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten Blora (MATRA Blora) menggelar dialog interaktif bertema Kemandirian Ekonomi dalam Membangun Mata Rantai Sosial Budaya pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekretariat MATRA DPD Kabupaten Blora dan dihadiri tokoh masyarakat, aktivis budaya, serta perwakilan pemuda.

Hadir sebagai narasumber, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Blora, Siswanto, dan Dewan Kehormatan Adat MATRA Blora, Kushariyadi.

Dalam pemaparannya, Siswanto menekankan bahwa kemandirian ekonomi masyarakat adat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan nilai sosial dan budaya lokal.

Politisi asal Sambong ini menegaskan bahwa faktor utama kemandirian ekonomi adalah pendidikan. Menurutnya, pendidikan memiliki peran sangat penting karena menjadi dasar kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi dan peluang ekonomi.

Bahkan, ia menilai pendidikan yang paling utama adalah pendidikan keluarga sebagai pondasi awal pembentukan karakter, etos kerja, dan pola pikir mandiri. Ia menambahkan bahwa melalui pendidikan akan terbentuk pola pikir dan perilaku mandiri yang mampu menghasilkan produk barang dan jasa unggulan.

Dialog juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Satupena Kabupaten Blora Gunawan Trihantoro, Ketua MATRA Kabupaten Blora Luhur Susilo, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya yang turut berpartisipasi aktif dalam diskusi.

Sementara itu, Kushariyadi menjelaskan bahwa mata rantai sosial budaya tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat. Ia menilai, ketika masyarakat memiliki kemandirian ekonomi, maka mereka akan lebih mampu mempertahankan identitas budaya, adat istiadat, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Ia juga menyampaikan bahwa kemandirian ekonomi sejatinya telah dicontohkan oleh tokoh terdahulu seperti Mbah Samin dan Mbah Penangsang.

Menurutnya, masyarakat masa kini sebenarnya bisa meneladani semangat kemandirian yang pernah dilakukan para tokoh penggerak tersebut dalam membangun kekuatan sosial berbasis nilai lokal.

Dialog berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan. Diskusi ini diharapkan dapat melahirkan gagasan dan langkah nyata dalam memperkuat sinergi antara pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya di wilayah Blora.

Panitia penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya MATRA untuk terus mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan keberlanjutan nilai budaya sebagai jati diri bangsa.*

Patung Samin Surosentiko dan Tirto Adhi Soerjo Pukau Dialog Kebudayaan PWI

METRO CEPU – Dua patung tokoh bersejarah asal Kabupaten Blora, patung Samin Surosentiko dan patung Tirto Adhi Soerjo, mencuri perhatian dan memukau seluruh peserta Acara Dialog Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, yang digelar di Hotel Horison UPI, Serang, Banten, Minggu 8 Februari 2026.

Diketahui, dialog kebudayaan ini diikuti oleh para bupati dan wali kota penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat beserta tim kebudayaan dari masing-masing daerah.

Acara diawali dengan pertunjukan seni budaya dari perwakilan Papua bertajuk “Papua Menari”, dilanjutkan dengan penampilan Tari Bedayo Abung Siwo Migo dari perwakilan Lampung Utara.

Mewakili Bupati Blora, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora bersama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Blora menyerahkan dua patung tokoh penting asal Blora, yakni Bapak Pers Nasional Tirto Adhi Soerjo dan tokoh budaya Samin Surosentiko.

Kedua patung tersebut merupakan karya seni ukir dari akar kayu jati berkualitas tinggi hasil karya pemahat asal Kelurahan Beran, Kecamatan Blora.

Karya tersebut diciptakan oleh seorang pemahat lokal bersama Wartono, yang dikenal sebagai salah satu pemahat andal di Kabupaten Blora.

Keindahan dan detail patung berhasil menarik perhatian peserta Dialog Kebudayaan dari berbagai kabupaten dan kota di Indonesia. Bahkan, kedua patung tersebut menjadi “primadona dadakan” dan banyak dimanfaatkan sebagai latar berfoto bersama maupun swafoto oleh para peserta.

Apresiasi datang dari budayawan sekaligus wartawan seni-budaya nasional, Agus Dermawan T. Ia menilai karya tersebut memiliki kualitas artistik yang sangat baik.

“Saya pikir, untuk hasil pemahat yang bersifat otodidak, ini merupakan karya yang luar biasa,” ungkap Agus Dermawan.

Dari aspek presisi dan teknik pemahatan, kata dia, patung ini sangat berhasil menggambarkan sosok tokoh yang sudah dikenal luas, khususnya Samin Surosentiko.

“Mencapai representasi tokoh seperti ini sangat sulit, namun karya ini benar-benar berhasil. Begitu pula patung Tirto Adhi Soerjo yang dieksekusi dengan sangat baik,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh Yusuf Susilo Hartono selaku perwakilan PWI Pusat. Ia menilai kehadiran dua patung tokoh asal Blora tersebut sangat relevan dan bermakna dalam momentum Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.

“Momentum ini sangat tepat, mengingat besok diperingati Hari Pers Nasional. Patung yang dihadirkan adalah tokoh pers nasional asal Blora, Tirto Adhi Soerjo, serta tokoh budaya Samin Surosentiko, yang sangat selaras dengan semangat dan tema Anugerah Kebudayaan PWI Pusat,” ujarnya.

Go Internasional: Barongan Blora Diusulkan ke UNESCO

METRO CEPU – Kabupaten Blora tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengusulkan Barongan Blora sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Blora bersama dengan Komunitas Barongan Blora bersama dengan sejumlah tim teknis, menggelar rapat koordinasi guna membahas persiapan teknis pengusulan tersebut, Senin (19/1/2026) di ruang Rapat Bupati Blora.

Rapat tersebut juga menghadirkan narasumber dari Tim Teknis Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen RI, Panca Waluyo, SE, Pamong Budaya Ahli Madya pada Balai Pelestarian Kebudayaan Wil. X Yogyakarta, Erna Purwaningsih, dan Dosen Seni Rupa ITB, Dr. Muchisin, S.Sn.

Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini ikut hadir didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Blora, Komang Gede Irawadi, beserta sejumlah kepala perangkat daerah untuk mendukung upaya tersebut.

Serta Paguyuban Seni Barongan Kabupaten Blora dan Dewan Kebudayaan Blora juga hadir dilibatkan.

Sekda Blora, Komang Gede Irawadi akan segera menindaklanjuti hasil rapat koordinasi tersebut, bersama dengan komunitas/paguyuban Barong Blora dan dinas terkait untuk segera menyusun tim.

Termasuk membuat action plan guna mempersiapkan langkah-langkah dan dokumen yang perlu untuk dilengkapi dalam waktu dekat ini.

“Kita segera akan kita buat tim, kita mapping apa-apa saja tugas sesuai tupoksinya, kita bersama harus punya niat mewujudkan Barongan ini untuk diusulkan ke UNESCO, tapi harus kita persiapkan dengan matang sejak saat ini,” terangnya.

Sebelumnya, Panca Waluyo, dalam rapat tersebut menjelaskan terkait dengan nilai strategis Barongan bagi Kabupaten Blora, tahap penyusunan berkas nominasi ICH UNESCO mulai dari data dan kelengkapan dokumen yang diperlukan, dukungan serta peran dari OPD hingga komunitas, serta timeline kerja pengusulan Barongan Blora menuju ICH UNESCO.

Narasumber lainnya, Erna Purwaningsih menjelaskan terkait dengan pelestarian kebudayaan hingga terkait dengan norma, standar, dan prosedur dalam ICH UNESCO.

Barongan Blora Go Internasional

Go Internasional Barongan Blora Diusulkan ke UNESCO 2

Ia mengungkapkan bahwa Barongan ini penting untuk diusulkan ke UNESCO. Harapannya Barongan tersebut dapat mengangkat nama Indonesia dan go internasional.

Terlebih, Barongan Blora telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbud RI, pada tahun 2017 lalu.

“Ini sangat relevan bahwa dengan rencana Barongan ini diusulkan ke UNESCO, yang pertama ini sudah kita lindungi, bahwa ini wujud perlindungan kita terhadap budaya yang kita miliki, jadi dengan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2017 ini menjadi salah satu syarat untuk bisa diusulkan,” terang Erna.

Sementara itu, Dr. Muchisin, pada kesempatan tersebut juga menjelaskan terkait dengan hasil risetnya mengenai sejarah hingga perkembangan Barongan.

Pihaknya juga mengungkapkan meski barongan tidak hanya ada di Blora tetapi di Kabupaten Blora ini perkembangan Barongan sangat besar dibanding daerah lain. Sehingga Blora dipandang bisa menginisiasi dalam mengajukan usulan ini ke UNESCO.

Go Internasional Barongan Blora Diusulkan ke UNESCO 3

“Dibanding daerah-daerah lain, di Blora itu perkembangannya sangat luar biasa bahkan sampai pelosok-pelosok daerah bahkan kecamatan, kelurahan itu ada, produsennya juga ada, dan ini menurut saya juga layak dan bisa diajukan,” terang Muchisin.

Ia juga mengungkap di situs pegunungan kendeng yang terletak di antara wilayah Blora-Rembang, terdapat suatu arca/patung batu yang berbentuk kepala totem singa.

“Disitu ada patung-patung kepala totem diantaranya itu singa atau barong dan bentuknya persis mirip dan saya juga analisa, artinya ini bisa jadi pusat yang paling dekat dengan perkembangan itu,” terangnya.

Dari Paguyuban Seni Barongan Kabupaten Blora, Adi Wibowo menyambut baik dan siap untuk mendukung upaya pengusulan Barongan ke ICH UNESCO.

Pihaknya juga mengapresiasi atas kepedulian dan perhatian dari Pemkab Blora terhadap Seni Barongan.

“Kami perwakilan dari Komunitas Seni Barongan Blora mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Blora yang sudah berinisiatif mengangkat seni Barongan Blora ke tingkat internasional,” ungkap Didik sapaan akrab Adi Wibowo yang juga salah satu pegiat Seni Barongan Risang Guntur Seto.***

Kirab Budaya Hari Jadi Blora Meriah dan Menggairahkan Perputaran Ekonomi Blora

METRO CEPU – Pemerintah Kabupaten Blora menggelar Kirab Budaya dalam rangka Peringatan Hari Jadi Blora yang ke-276 Tahun 2025, pada Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari jadi yang tahun ini mengusung tema “Nyawiji mBangun Blora, Akur Makmur Misuwur.”

Prosesi kirab dihadiri oleh Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, beserta Ketua TP PKK Blora, Wakil Bupati Blora beserta suami, Forkopimda Blora, dan unsur eksekutif lainnya hingga legislatif.

Rangkaian kegiatan kirab budaya diawali dari Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora dan dibuka secara resmi di halaman pendopo.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa serta penyampaian laporan Suba Manggala oleh Affriansyah Salfa Saputra, dari Inspektorat Kabupaten Blora.

Kirab diikuti oleh berbagai unsur, mulai dari kendaraan pengawalan, Suba Manggala, pembawa Bendera Merah Putih dan lambang daerah, rombongan Bupati, rombongan Forkopimda, rombongan anggota DPRD, Duta Wisata, Manggala Retno, Prajurit Jemparing Langit, Manggala Yuda, Prajurit Tetabuhan, hingga Prajurit Semut Ireng sebagai pembawa gunungan.

Dengan berpakaian adat Jawa gaya Solo Basahan modifikasi muslim, Bupati Blora dan istri mengikuti jalannya Kirab Budaya bersama dengan Wakil Bupati, Forkopimda, dan para peserta.

Peserta kirab diberangkatkan dari Rumah Dinas Bupati Blora dengan rute Jalan Pemuda hingga Jalan Ahmad Yani, dan berakhir di Panggung Kehormatan di depan Kantor DPRD Blora.

Prosesi berlangsung tertib dan semarak, diikuti seluruh pangombyong Kirab Budaya Hari Jadi ke-276 Kabupaten Blora Tahun 2025.

Bupati Arief pada kesempatan tersebut mengapresiasi gelaran kirab budaya dalam memperingati Hari Jadi ke 276 Kabupaten Blora.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kirab budaya ini. Selain untuk memeriahkan hari jadi, juga untuk nguri-uri seni budaya Blora. Banyak para seniman tampil, kesenian kita keluar semua. Generasi muda jadi lebih mengenal seni budaya daerahnya. Kebersamaan melalui kirab budaya seperti ini harus terus kita bangun agar warga masyarakat Blora semakin cinta dan bangga dengan daerahnya. Mari kita Nyawiji mBangun Blora Akur Makmur Misuwur,” ucap Bupati.

Ia juga mengapresiasi gerak cepat petugas hijau DLH Kabupaten Blora yang tidak lelah membersihkan sepanjang jalur kirab secara langsung di belakang peserta terakhir tanpa menunggu semuanya selesai finish. Petugas hijau pun langsung diajak Bupati foto bersama di depan panggung kehormatan.

“Pasukan hijau keren…!! Terima kasih atas kerjasamanya. Jenengan semua top keren. Sehat sehat selalu nggih..,” ujarnya.

44 Peserta Ikuti Kirab Budaya Hari Jadi Blora

Kirab Budaya Hari Jadi Blora Meriah dan Menggairahkan Perputaran Ekonomi Blora 2

Untuk diketahui, Kirab Budaya tahun ini diikuti oleh 44 peserta yang terdiri dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Blora, perwakilan kecamatan, instansi vertikal, BUMD, hingga Masyarakat Adat Nusantara.

Para peserta menampilkan beragam pertunjukan kesenian tradisional yang dipentaskan di hadapan Bupati Blora, Forkopimda, serta masyarakat yang menyaksikan di seputar Tugu Adipura Blora.

Berbagai penampilan mulai Kesenian Barongan, Tari Tradisional Tayub, penampilan teatrikal sejarah Blora, berbagai macam kesenian tari yang menggambarkan potensi Blora, hingga penampilan Barongsai dan Reog yang semakin memeriahkan kirab.

Selain peserta utama, kirab budaya juga dimeriahkan oleh dua peserta eksibisi, yakni Bank Jateng dan kelompok seni Barongan Risang Guntur Seto, yang menjadi daya tarik bagi masyarakat Blora dari berbagai kalangan.

Tidak hanya itu, di kegiatan Kirab Budaya Hari Jadi Blora, juga menggerakkan ekonomi. Penjual makanan, minuman nampak tersenyum lega karena dagangannya laris terjual. Acara yang dimulai pukul 08:00 WIB itupun berakhir hingga 14:30 WIB di depan panggung kehormatan.***

Pertama Kali Digelar di Hari Jadi Blora: Tradisi Grebeg Gunungan Dipadati Ribuan Warga dari Berbagai Daerah

METRO CEPU – Pertama kali digelarnya tradisi Grebeg Gunungan di kawasan Goa Terawang Blora menarik perhatian ribuan warga dari berbagai daerah mulai dari Grobogan, Ngawi, Rembang, hingga wilayah sekitarnya yang memadati lokasi untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam rangkaian tradisi yang sarat makna kultural ini.

Suasana desa dan kota bertemu dalam harmoni kolektif ketika gunungan hasil bumi, hasil kerajinan, dan tumpeng-tumpeng simbolik diarak dengan tata upacara yang teratur, diiringi doa-doa bersama serta pertunjukan seni tradisional yang menegaskan identitas budaya Blora.

Momentum ini tidak hanya menjadi wahana ritual syukur atas berkah panen dan harapan kesejahteraan, tetapi juga berfungsi sebagai platform penguatan solidaritas antardaerah, pertukaran budaya, serta potensi ekonomi mikro bagi pedagang lokal yang memanfaatkan lonjakan pengunjung.

Acara yang digelar di kawasan wisata Goa Terawang Ecopark, Kecamatan Todanan, pada Kamis siang (11/12/2025) ini sukses menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah, bahkan sebelum perhelatan dimulai.

Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, hadir bersama Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, serta pejabat terkait. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan perdana ini sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blora ke-276.

“Terima kasih atas seluruh dukungannya. Kita berdoa semoga di ulang tahun ke-276 ini, Blora semakin maju, pembangunan terus berlanjut, dan seluruh masyarakat mendapatkan hasil bumi yang melimpah. Gunungan ini adalah simbol rasa syukur kita atas nikmat yang diberikan Allah SWT,” tutur Bupati.

Ia juga memohon doa kepada seluruh masyarakat agar dirinya, Wakil Bupati, dan jajaran pemerintahan senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran dalam memimpin Blora menuju arah yang lebih baik.

Bupati Blora yang akrab disapa Gus Arief turut mengapresiasi ketertiban peserta dan pengunjung selama mengikuti rangkaian acara.

“Ini luar biasa, saya ucapkan terima kasih karena semuanya sangat tertib. InsyaAllah tahun depan akan kita adakan lebih meriah lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Camat Todanan Karyono melaporkan bahwa Grebeg Gunungan tahun ini diikuti oleh peserta dari se-eks Kawedanan Ngawen, meliputi Todanan, Ngawen, Japah, dan Kunduran. Sebanyak 33 gunungan, terdiri dari gunungan lanang dan wadon, turut diarak dalam acara yang menjadi simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta tersebut.

Salah satu pengunjung, Dania asal Grobogan, mengaku sengaja datang jauh-jauh untuk menyaksikan kemeriahan tradisi ini di Goa Terawang.

“Senang sekali bisa melihat langsung acara gunungan. Selamat ulang tahun ke-276 untuk Kabupaten Blora,” ujarnya.

Selain Grebeg Gunungan, acara juga dimeriahkan dengan tari massal dan pentas barongan Blora yang turut menarik perhatian pengunjung. Masyarakat berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin sekaligus destinasi wisata budaya baru di Goa Terawang Blora.***

Dibuka Wakil Bupati: Festival Literasi Blora 2025 Resmi Dimulai

METRO CEPU – Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, secara resmi membuka Festival Literasi Blora 2025 yang digelar di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora (DPK Blora), pada Selasa 11 November 2025.

Acara yang mengusung tema “Sesarengan Hebat Berliterasi” ini dihadiri oleh perwakilan dinas perpustakaan dari Kudus, Pati, Rembang, Jepara, serta para pegiat literasi, komunitas baca, pelajar, dan masyarakat umum.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Blora menegaskan bahwa tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan ajakan nyata untuk menjadikan literasi sebagai landasan membangun karakter, inovasi, dan masa depan bangsa.

“Alhamdulillah, hari ini kita dapat berkumpul untuk merayakan Festival Literasi Blora 2025. ‘Sesarengan Hebat Berliterasi’ bukan sekadar slogan, tetapi ajakan nyata untuk menjadikan literasi sebagai landasan dalam membangun karakter, inovasi, dan masa depan bangsa,” ungkapnya.

Sri Setyorini menambahkan bahwa literasi adalah pintu menuju transformasi. Untuk mewujudkan Blora sebagai Kabupaten Literasi, masyarakat tidak hanya diajak gemar membaca, tetapi juga berpikir kritis, berdiskusi, dan berkolaborasi aktif dalam pembangunan.

“Kita percaya, perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil — dari membaca di rumah, berdiskusi di taman baca, hingga berkreasi di panggung festival seperti hari ini,” ujarnya.

Festival ini terselenggara berkat Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik dari Perpustakaan Nasional RI dalam Program Pengembangan Perpustakaan Daerah Tahun 2025.

Wakil Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Perpusnas dan semua pihak yang mendukung.

Di akhir sambutan, dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”, lalu secara resmi membuka Festival Literasi Blora 2025.

Inovasi dan Ragam Kegiatan Festival Literasi Blora
Sementara itu, Kepala DPK Blora, Muhammad Toha Mustofa, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari program pengembangan perpustakaan daerah.

“Banyak kegiatan yang telah kami laksanakan, mulai dari lomba, bimbingan kepenulisan, pembuatan konten video inovatif, resensi buku, hingga bedah buku. Antusiasme masyarakat luar biasa, pendaftar selalu membludak,” jelas Toha.

Ia juga memaparkan beberapa pencapaian, seperti pemilihan Duta Literasi Blora yang diikuti 170 peserta. Toha berharap kolaborasi antara DPK Blora, TP PKK, dan Dharma Wanita terus memperkuat budaya baca masyarakat.

Sebagai inovasi, DPK Blora meluncurkan perpustakaan digital ‘e-Mustika’ yang dapat diunduh melalui Play Store.

“Melalui e-Mustika, masyarakat bisa membaca buku elektronik dan mencari dokumen arsip daerah. Kami juga mengajak warga yang memiliki foto-foto lama Blora untuk dibagikan sebagai bagian dari pelestarian arsip daerah,” tambahnya.

Bunda Literasi Kabupaten Blora, Ainia Shalihah, turut memberikan apresiasi atas keberhasilan DPK Blora dalam mendapatkan DAK Non Fisik dari Perpusnas.

“Program ini tidak datang setiap tahun, tapi berdasarkan penilaian dan prestasi. Semoga tiga tahun ke depan Blora kembali mendapat dukungan ini,” ujarnya.

Kegiatan seperti ini, kata dia, sangat penting untuk memberi ruang bagi anak-anak kita tampil dan belajar menjadi masyarakat yang gemar membaca serta berpikir kritis.

Festival Literasi Blora 2025 akan berlangsung hingga 15 November 2025. Diharapkan, kegiatan ini tidak hanya memberikan kesan positif, tetapi juga menjadi bukti bahwa dukungan dana dari pusat telah dimanfaatkan secara optimal untuk memajukan budaya literasi di Kabupaten Blora. ***