Arsip Kategori: Sosial Budaya

Duta Literasi Kabupaten Blora Siap Gerakkan Gen-Z

METRO CEPU – Enam finalis Duta Literasi Kabupaten Blora Tahun 2025 telah terpilih. Bunda Literasi Kabupaten Blora, Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman mengatakan bahwa pemilihan Duta Literasi ini diikuti 170 peserta dan menyisakan 6 finalis.

“Duta Literasi diharapkan mampu menguatkan dan meningkatkan daya literasi di wilayah Blora, khususnya angkatan Gen-Z dan pelajar secara spesifik,” ungkap Ainia.

Pemilihan Duta Literasi ini adalah kolaborasi yang didukung banyak pihak, yakni Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, dan Bunda Literasi Blora.

Kegiatan ini juga didukung penuh oleh komunitas literasi Satupena Blora. Visi mereka menumbuhkan budaya literasi berbasis kearifan lokal di kalangan pelajar Blora.

Gunawan Trihantoro, Ketua Satupena Blora, dalam pembekalannya (8/11/2025), menekankan visi yang reflektif, realistik, dan berdampak.

“Penumbuhan budaya literasi memanfaatkan potensi budaya lokal,” ungkap Gunawan di hadapan para finalis Duta Literasi Kabupaten Blora 2025 yang mencermati paparannya.

Potensi itu seperti Budaya Samin, cerita rakyat (Sungai Lusi, Samin Surosentiko, Blora tempo dulu). “Juga seni Barongan, dan permainan tradisional beserta khasanah edukasionalnya,” lanjut Gunawan.

Contoh aksi nyatanya beragam. Misalnya, menghidupkan kembali tradisi membaca dongeng rakyat Blora, mendorong pelajar menuliskan karya dengan jelas dan inspiratif, serta meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan baca kreatif digital.

Duta Literasi Kabupaten Blora Siap Gerakkan Gen-Z 2

Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Blora, Mohamad Toha Mustofa, menegaskan bahwa prioritas kegiatan ini adalah membangun peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). “Literasi adalah salah satu komponen penting yang memengaruhi IPM,” katanya.

Sebab, lanjut Toha, kemampuan literasi yang baik akan mendukung peningkatan IPM. Ini berkaitan erat dengan pendidikan dan pengetahuan yang lebih luas.

Di Indonesia, pengukuran literasi diwakili oleh Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). IPLM berfungsi mengukur sejauh mana pemerintah daerah membina dan mengembangkan perpustakaan, serta mengukur efektivitas program dalam menumbuhkan budaya literasi.

Inilah yang dijawab DPK Blora melalui strategi nyata dengan menegaskan pentingnya jumlah koleksi, pengunjung, dan layanan perpustakaan (SD, MI, MTs, SMP, hingga Perpustakaan Desa). “Idealnya jumlah koleksi buku sejumlah 2 kali jumlah penduduk Blora,” ujar Toha.

Harapannya, kebutuhan buku akan tercapai dalam waktu yang tidak lama. Karena substansi peningkatan kegemaran membaca masyarakat adalah satu, yaitu meningkatnya jumlah masyarakat pembaca buku.***

HUT ke-61 Partai Golkar Jateng: Gelar Wayang Kulit hingga Bazar Sembako Murah di Blora

METRO CEPU – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Partai Golkar, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah (Golkar Jateng) menyelenggarakan serangkaian kegiatan budaya dan sosial di sejumlah daerah.

Salah satu lokasi perayaan adalah Kabupaten Blora, yang menjadi tuan rumah pagelaran wayang kulit dan beragam aksi kepedulian sosial.

Ketua DPD Partai Golkar Jateng, Mohammad Saleh, menekankan bahwa peringatan kali ini bukan sekadar refleksi politik, tetapi juga bentuk nyata kepedulian partai terhadap pelestarian budaya bangsa.

“Wayang kulit adalah bagian dari identitas nasional. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Budaya seperti ini harus dijaga agar tidak hilang atau diklaim bangsa lain,” ujar Mohammad Saleh dalam sambutannya, Minggu 9 November 2025.

Ragam Kegiatan Sosial dan Budaya

Selain pagelaran wayang kulit yang sarat akan nilai filosofis, Partai Golkar juga mengadakan berbagai kegiatan sosial untuk langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Sejumlah kegitan sosial tersebut di antaranya meliputi, Bazar sembako murah, Layanan pengobatan gratis, Ziarah ke Taman Makam Pahlawan, Pameran dan bazar UMKM dan Pasar rakyat.

Kegiatan serupa juga digelar secara merata di daerah lain di Jawa Tengah, seperti sholawatan bersama bersama Gendro Nabi di Purworejo dan Habib Hidim di Kendal.

Golkar: Partai Nasionalis-Religius di Tengah Masyarakat

Mohammad Saleh menegaskan kembali positioning Partai Golkar sebagai partai yang mengharmonisasikan nilai kebangsaan dan keagamaan.

“Golkar ini kesenian mau, sholawatan juga oke. Karena kita partai yang berada di tengah-tengah, nasionalis religius,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada generasi muda yang masih aktif dan bersemangat dalam melestarikan kesenian tradisional, seperti para dalang muda Gandrung Nabi dan Habib Bidin Az Zahir.

Apresiasi untuk Golkar Blora dan Prestasi di Pilkada

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Blora, Siswanto, menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, atas dukungan penuh terhadap seluruh rangkaian acara HUT ke-61 ini.

Siswanto juga membagikan kabar gembira mengenai prestasi elektoral Golkar di Blora. Pada Pemilu 2024, suara Partai Golkar di kabupaten ini mengalami kenaikan sekitar 15.000 suara, mengangkat posisinya dari peringkat empat menjadi peringkat tiga.

“Pada Pemilu 2019 kami meraih lima kursi. Tahun 2024, ini adalah prestasi bersama,” ungkap Siswanto yang baru saja dikukuhkan untuk periode ketiga memimpin Golkar Blora.

Dengan penuh semangat, ia menutup sambutan dengan seruan, “Mari kita solidkan barisan. Golkar! Indonesia! Golkar untuk Indonesia!” kata Siswanto.

Hari PMI 2025, Polres Blora Sumbang 100 Kantong Darah Personel

METRO CEPU – Kepolisian Resor Kabupaten Blora (Polres Blora) menunjukkan kepedulian kemanusiaan yang tinggi dalam rangka memperingati Hari Palang Merah Indonesia (PMI) Nasional.

Melalui kegiatan Bakti Kesehatan, sebanyak 100 personel Polres Blora secara sukarela mendonorkan darah mereka.

Aksi sosial ini menjadi kontribusi nyata Polri dalam mendukung ketersediaan stok darah bagi masyarakat Blora.

Acara donor darah yang terlaksana atas kerja sama antara Sidokkes Polres Blora dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Blora ini digelar di Aula Aryaguna Polres Blora pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Sinergi Polri dan PMI Blora di Hari Kemanusiaan
Kegiatan kemanusiaan ini dihadiri langsung oleh Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, didampingi Ketua PMI Blora serta para Pejabat Utama Polres Blora.

Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, menekankan bahwa partisipasi dalam donor darah Polres Blora ini memiliki dua tujuan utama.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar aksi sosial, namun juga sebagai cara untuk menjaga kesehatan anggota yang bertugas,” ujar AKBP Wawan Andi Susanto.

Hari PMI 2025 Polres Blora Sumbang 100 Kantong Darah Personel 2

100 Kantong Darah untuk Kesehatan Masyarakat Blora
Menurut Kapolres, setetes darah yang disumbangkan sangat berarti untuk menambah stok darah di PMI dan membantu masyarakat Blora yang membutuhkan transfusi darah.

Selain memberikan manfaat sosial, donor darah secara rutin juga terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan para pendonor, termasuk personel kepolisian.

Aksi Polres Blora donor darah dalam rangka Hari PMI 2025 ini merupakan wujud nyata kepedulian sosial Polri terhadap kemanusiaan.

Ini sekaligus menjadi bentuk sinergi yang solid antara Kepolisian dan PMI dalam menjamin ketersediaan darah bagi warga Kabupaten Blora.

Diharapkan, dengan adanya kegiatan rutin seperti ini, kesadaran masyarakat untuk berdonor semakin meningkat, sehingga kebutuhan darah di Kabupaten Blora dapat selalu terpenuhi.***

Guyub Rukun dan Aman Melalui Pos Ronda: Kapolres Ajak Warga Blora Aktifkan Poskamling

METRO CEPU – Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) merupakan fasilitas keamanan lingkungan yang berfungsi sebagai titik koordinasi dan pusat kegiatan siskamling (sistem keamanan lingkungan) di tingkat rukun tetangga atau lingkungan permukiman.

Keberadaan Poskamling atau biasa dikenal Pos Ronda mencerminkan komitmen kolektif warga untuk menjaga ketertiban, mencegah tindak kriminalitas, serta meningkatkan rasa aman di kawasan tempat tinggal.

Dengan penempatan yang strategis dan dikelola secara teratur, Poskamling tidak hanya menjadi sarana pengawasan pasif tetapi juga platform untuk edukasi keamanan, komunikasi darurat, dan koordinasi cepat dengan aparat kepolisian setempat ketika diperlukan.

Penerapan jadwal ronda yang jelas, pencatatan kejadian, serta pemeliharaan fasilitas yang memadai menjadi unsur penting agar Poskamling efektif dan berkelanjutan.

Selain fungsi pengamanan, Poskamling juga berperan sebagai pusat informasi sosial, menjalin hubungan antarwarga, menyelenggarakan kegiatan gotong royong, dan menjadi tempat penyampaian imbauan terkait keselamatan lingkungan seperti mitigasi kebakaran, kesiapsiagaan bencana, dan pengelolaan sampah yang menjadi tanggung jawab bersama.

Atas hal tersebut, Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto mengajak seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Blora untuk kembali mengaktifkan Poskamling sebagai upaya preventif yang nyata dalam menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.

Ajakan ini disampaikan Kapolres saat kegiatan “Ngopi Bareng dan Sambang Satkamling” di Pos Kampling RW 01 Desa Jejeruk, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora pada Kamis (11/9/2025) malam.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) yang melibatkan langsung unsur pimpinan kepolisian dengan warga,” kata AKBP Wawan.

Selain Kapolres, hadir pula Waka Polres Blora Kompol Slamet Riyanto, sejumlah Pejabat Utama (PJU) Polres Blora, Forkopimcam, kepala desa, dan tokoh masyarakat setempat.

Guyub Rukun dan Aman Melalui Pos Ronda Kapolres Ajak Warga Blora Aktifkan Poskamling 2

Kapolres Wawan Andi Susanto menyampaikan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan. “Saya melihat masyarakat di sini guyub rukun, semoga hal tersebut dapat dipertahankan yang tentunya dapat membantu menjaga keamanan bersama,” ujar Kapolres.

Kapolres Blora juga menambahkan bahwa siskamling membawa manfaat besar dalam mengantisipasi berbagai gangguan kamtibmas di desa. Ia berharap, partisipasi aktif warga dapat membuat Desa Jejeruk tetap aman dan kondusif.

“Mari bersama menjaga kondusifitas Kabupaten Blora dan jangan mudah terprovokasi ajakan-ajakan negatif yang berkembang di media sosial,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jejeruk, Sri Purnawati, mengucapkan terima kasih atas kunjungan kedua kalinya dari Kapolres Blora. Ia merasa bangga karena Bhabinkamtibmas dan Babinsa desa mereka juga aktif ikut ronda.

“Alhamdulillah di desa Jejeruk RW 1 terdapat tujuh RT dan semuanya sudah memiliki pos kamling,” kata Sri Purnawati.

Pada kesempatan tersebut, Polres Blora juga memberikan bantuan perlengkapan sarana dan prasarana untuk tujuh pos kamling di Desa Jejeruk sebagai bentuk dukungan nyata dalam upaya Harkamtibmas.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab yang membahas berbagai isu, seperti cara memelihara kamtibmas, tertib lalu lintas, hingga prosedur pembuatan SIM dan perpanjangan STNK.

Ajakan Kapolres Blora untuk menghidupkan kembali Poskamling dilandasi oleh kesadaran bahwa peran serta masyarakat sangat krusial dalam mencegah tindak kriminalitas serta mendeteksi dini potensi gangguan kamtibmas.

Dengan menghidupkan kembali Poskamling, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara aparat kepolisian dan warga setempat melalui pertukaran informasi, patroli bersama, serta pembentukan mekanisme tanggap darurat yang sederhana namun efektif.***

Fosil Tanduk Kerbau Purba Berusia 250 Ribu Tahun Ditemukan di Blora

METRO CEPU – Seorang warga di Kabupaten Blora, Jawa Tengah menemukan fosil tanduk kerbau purba yang diperkirakan berusia sekitar 250 ribu tahun, sebuah penemuan yang sangat signifikan bagi dunia arkeologi dan paleontologi di Indonesia.

Menanggapi penemuan tersebut, Tim Teknis Bidang Kebudayaan dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora segera bergerak cepat untuk melakukan langkah-langkah konservasi dan dokumentasi yang diperlukan guna menyelamatkan fosil berharga ini.

Penemuan fosil tanduk kerbau purba ini tidak hanya menjadi bukti penting mengenai keberadaan fauna purba di wilayah Blora, tetapi juga membuka peluang penelitian lebih lanjut dalam memahami kondisi lingkungan serta evolusi kehidupan pada masa prasejarah di daerah tersebut.

Fosil tanduk kerbau purba yang diduga berusia 250.000 tahun berhasil diselamatkan tim Teknis Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Blora setelah mendapatkan laporan dari warga Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

“Penemuan ini berawal dari laporan warga yang menemukan fosil tanduk kerbau purba atau Bubalus Palaeokarabao dengan panjang 120 sentimeter dan lebar 24 sentimeter,” terang Pengelola Rumah Artefak sekaligus Petugas Pengelola Cagar Budaya Dinporabudpar Blora, Lukman Wijayanto, di Blora, Senin (4/8/2025).

Menurut Lukman, kali pertama fosil tanduk kerbau itu ditemukan oleh Ngadi (62) dan sejumlah warga Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban saat mencari pasir di sungai pada Selasa (29/7/2025).

“Jadi Bapak Ngadi dan warga itu sebenarnya sedang dalam rangka mencari pasir. Mereka memang penggali pasir tradisional pakai cangkul. Jadi bukan yang skala besar itu. Saat mencangkul mereka menemukan itu. Jadi memang sangat kami hargai karena mereka bersedia melaporkan ke perangkat desa yang meneruskan ke Dinporabudpar,” jelasnya.

Setelah laporan diterima, tim teknis dari Dinporabudpar Blora diterjunkan ke lokasi di Dukuh Kedungpereng, Desa Gondel.

Lukman menyebut di sana masih ditemukan fragmen-fragmen dan dari ekskavasi kecil yang dilakukan, berhasil menyelamatkan fragmen kranium atau tengkorak, kemudian ada rahangnya. “Rahang dari kerbau purba. kemudian kami amankan di Rumah Artefak Blora,” jelasnya.

Fosil Tanduk Kerbau Purba Blora

Saat ini, tanduk fosil masih disimpan di rumah warga, sementara tengkorak dan rahang telah diamankan ke Rumah Artefak Blora untuk pelestarian.

Menurut Lukman, karena itu terkait kebijakan penanganan kecagarbudayaan, dirinya menunggu arahan dan kebijakan dari pimpinan.

Lukman menjelaskan, pihaknya bekerja sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, serta Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pelestarian Cagar Budaya Kabupaten Blora.

“Artinya memang tentu saja ada nilai-nilai penting, manfaat, dan sebagainya untuk dunia pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sebagainya seperti yang tercantum di undang-undang,” ucap dia.

Berdasarkan kontur dan tekstur tanah tempat fosil ditemukan, pihaknya menduga masih banyak fosil besar lainnya yang tertanam utuh.

“Sementara kemarin kita identifikasi itu tanah itu jenisnya tanah tufan. Kalau di geologi itu namanya tanah tufan. Saat kita telaah di lapangan di lokasi temuannya itu, di titik temuan masih banyak fragmen yang utuh, salah satunya ini rahang kemudian kranium. Kemungkinan-kemungkinan masih banyak itu di situ,” terang Lukman.

Kecepatan dan ketelitian Tim Teknis Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Blora dalam merespons penemuan ini menunjukkan komitmen tinggi pemerintah daerah terhadap pelestarian warisan budaya dan ilmu pengetahuan, yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi komunitas lokal dan pengembangan pariwisata edukatif berbasis sejarah di Blora.***

Semarakkan Sedekah Bumi: Desa Bangsri Jepon Suguhkan Seni Tayub Blora

METRO CEPU – Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora kembali menghidupkan tradisi luhur yang telah diwariskan turun-temurun yaitu Sedekah Bumi.

Acara yang menjadi wujud syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa ini selalu dinanti oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi warga Dusun Ngrapah, Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Blora.

Tahun ini, perayaan Sedekah Bumi di Desa Bangsri terasa istimewa dengan hadirnya pagelaran seni Tayub Blora, sebuah warisan budaya tak benda yang kaya akan nilai filosofis dan keindahan gerak.

Sedekah Bumi bukan sekadar ritual tahunan; ia adalah cerminan dari kearifan lokal yang mendalam, sebuah jembatan penghubung antara manusia dengan alam, serta manifestasi dari rasa gotong royong dan kebersamaan.

Bagi masyarakat agraris di wilayah Kabupaten Blora seperti Desa Bangsri, bumi adalah sumber kehidupan. Oleh karena itu, melalui Sedekah Bumi, mereka mengungkapkan rasa terima kasih atas kesuburan tanah yang telah memberikan hasil panen melimpah, sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan untuk tahun-tahun mendatang.

Puncak perayaan Sedekah Bumi di Desa Bangsri selalu diwarnai dengan berbagai kegiatan, mulai dari kenduri bersama, doa lintas agama, hingga sajian jajanan tradisional. Namun, yang paling menarik perhatian pada sedekah bumi yang digelar Minggu 25 Mei 2025 ini adalah pementasan seni tradisional Tayub Blora.

Alunan gending Mbangun Desa, menjadi pembuka saat Kepala Desa Bangsri Yananta Laga Kusuma bersama sejumlah perangkat desa ketiban sampur, lantas berjoget bersama di panggung yang digelar di halam rumah Kepala Dusun Ngrapah Syaikul Amin.

Semarakkan Sedekah Bumi Desa Bangsri Jepon Suguhkan Seni Tayub Blora

“Jadi ini sebagai bentuk pelestarian seni tradisi di acara sedekah bumi dusun Ngrapah. Acara ini dilaksanakan secara gotong royong, sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT, atas berkah, rezeki dan hasil panen yang cukup. Harapannya, di acara sedekah bumi tahun depan kita semua selalu diberikan berkah, kelancaran rezeki, kesehatan dan serta panjang umur,” kata Kepala Dusun Ngrapah Syaikul Amin.

Lebih lanjut, Syaikul Amin mengatakan, digelarnya pertunjukan seni tayub, merupakan kesenian yang sudah dilakukan oleh para pendahulu setiap sedekah bumi. Sebelum pertunjukan seni tayub dimulai, warga setempat menggelar hajatan (kenduri) bersama di rumah Kadus Ngrapah.

“Seperti desa lainnya, warga dusun Ngrapah juga menyelenggarakan hajatan, membawa nasi tumpeng dan aneka bumbu serta lauk, kemudian berdoa bersama dimpimpin oleh pemuka agama, kemudian nasi tumpeng itu dimakan dan atau dibagikan,” tambahnya.

Aneka makanan tradisional juga disajikan di acara sedekah bumi, seperti tape ketan, pasung, dumbek, bogis dan jadah yang dibuat dari bahan tepung beras ketan serta buah pisang.

Warga setempat juga mengundang sanak famili dan kerabat serta teman kerja untuk datang menikmati makan bersama di rumah mereka.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas sepanjang acara. Tua muda, laki-laki dan perempuan, semuanya tumpah ruah menyaksikan setiap rangkaian kegiatan yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan komunitas di Desa Bangsri.

Semangat kebersamaan yang terpancar adalah bukti bahwa tradisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan perekat sosial yang mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Tayub Blora, dengan segala pesona dan kekhasannya, merupakan seni pertunjukan yang memadukan gerak tari, iringan musik gamelan, dan sinden (penyanyi).

Lebih dari sekadar hiburan, Tayub Blora menyimpan makna mendalam tentang keselarasan hidup, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap alam. Gerakan tari yang luwes dan penuh makna, diiringi alunan gamelan yang menenangkan, menciptakan suasana magis yang membawa penonton larut dalam keindahan budaya.

Hadirnya Tayub Blora di perayaan Sedekah Bumi Desa Bangsri memiliki relevansi yang kuat. Tayub seringkali dipentaskan dalam berbagai upacara adat sebagai ungkapan syukur atau permohonan.

Dengan menampilkan Seni Tayub Khas Blora, masyarakat Dusun Ngrapah, Desa Bangsri, Kecamatan Jepon tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga melestarikan seni tradisi yang menjadi identitas kebudayaan mereka.

Ini adalah upaya nyata dalam menjaga agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya, serta menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap warisan leluhur untuk lebih mencintai dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia.***

Berdiri Sejak Tahun 1722, Masjid Agung Baitunnur Blora Ditetapkan Sebagai Masjid Bersejarah

METRO CEPU – Masjid Agung Baitunnur Blora ditetapkan oleh Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sebagai masjid bersejarah.

Masjid Agung Baitunnur Blora dibangun pada tahun 1722 dan dilakukan pemugaran pertama oleh Bupati R.T. Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774

Penetapan tersebut ditandai dengan penyerahan prasasti kepada jajaran takmir masjid dan disaksikan oleh Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman Minggu (27/04/2025) pagi di serambi masjid setempat.

Ketua Takmir Masjid Agung Baitunnur Blora , Khoirur Rozikin berharap dengan label masjid bersejarah tersebut, akan menjadi nilai tambah serta penyemangat untuk mengurus masjid.

“Alhamdulillah masjid agung Baitunnur Blora sudah ditetapkan menjadi masjid bersejarah tentunya ini menjadi semangat dalam beribadah dan mengurus masjid yang usianya sudah Ratusan tahun,” ungkapnya.

Ketua LTM PWNU Jawa Tengah, H. Nur Akhlis menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus Masjid Agung Baitunnur Blora yang terus merawat masjid bersejarah. Ia berharap semoga ke depan masjid agung akan semakin maju dan dapat memakmurkan jamaahnya.

“Plangisasi ini juga sebagai bentuk melestarikan budaya melestarikan peninggalan-peninggalan para Kyai dan pendahuluan kita agar para generasi muda yang akan datang bisa meneladani dan sekaligus juga merawat,” jelasnya.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga sekaligus untuk menghidupkan kembali hasanah yang dulu pernah digali, dikembangkan oleh para masyayikh dan para Kyai.

“Ini bukan hanya simbolik semata tetapi harapannya ini nanti mampu menjadi ruh untuk mengembangkan nilai-nilai keagamaan khususnya di kabupaten Blora sehingga Baitunnur ini merupakan cahaya yang bisa dinikmati dan menerangi masyarakat secara luas,” imbuhnya.

Pihaknya berharap mudah-mudahan dengan pelangisasi masih bersejarah ini mampu lebih optimal dalam mengembangkan nilai-nilai ajaran-ajaran Aswaja masyarakat secara luas.

Terkait pengusulan menjadi masjid bersejarah pihaknya mengaku minimal sesuai dengan keputusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yaitu didirikan lebih dari 50 tahun dan tentunya masjid ini sudah lebih dari 100 tahun bahkan 300 tahun.

“Kabupaten Blora ini sudah menepati angka kelima dari masjid bersejarah yang sudah dilakukan plangisasi oleh LTM PWNU Jawa Tengah, sebelumnya ada Masjid Agung Rembang, kemudian Masjid Agung pati kemudian masjid jami’ Ismail di Demak kemudian Masjid Tiban di Grobogan meskipun begitu kami menginginkan bisa meluas di seluruh kabupaten kota di seluruh Jawa Tengah harapannya ada plangisasi, ” harapnya.

Masjid Bersejarah di Blora yang Patut Dijaga

Masjid Agung Baitunnur Blora Ditetapkan Sebagai Masjid BersejarahBupati Blora Dr. H. Arief Rohman atas nama Pemerintah Kabupaten Blora, mengucapkan terima kasih kepada LTM PWNU Jawa Tengah atas dedikasi dan perjuangannya dalam menjaga dan melestarikan masjid bersejarah di Jawa Tengah.

Terima kasih juga disampaikan kepada Takmir Masjid Agung Baitunnur dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang turut serta dalam pembangunan, renovasi dan pemeliharaan Masjid Agung Baitunnur, sampai saat ini.

Dikemukakan, pemasangan prasasti masjid bersejarah merupakan wujud terima kasih jamaah kepada para ulama terdahulu, karena beliau-beliau telah berjasa dan berperan dalam penegakan agama Islam, terutama di Kabupaten Blora.

“Masjid ini bukan hanya bangunan, tetapi juga warisan budaya dan nilai-nilai ke-Islam-an yang patut kita jaga bersama. Masjid merupakan pusat kegiatan dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat dan ulama-ulama terdahulu,” imbuhnya.

Semoga dengan pemasangan prasasti masjid bersejarah ini terus menjadikan Masjid Agung Baitunnur sebagai pusat dakwah dan sumber inspirasi bagi masyarakat, serta menjadi tempat yang nyaman dan kondusif untuk beribadah dan memperkuat Ukhuwah Islamiyah.

“Tentunya ini untuk memberikan pertanda dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa masjid agung Baitunnur ini adalah masjid bersejarah di blora kita harus memakmurkan masjid ini meramaikan masjid ini agar keberadaan masjid ini akan memberikan kemaslahatan untuk umat yang ada di Blora,” tuturnya.

Kedepan dari Pemkab dengan Diaspora yang sudah berhasil, akan merencanakan untuk melakukan pembangunan, menata sarpras yang ada di Masjid agung Baitunnur Blora ini untuk kita tata, kita perbaiki masjid bersejarah yang ada di Blora.

“Masjid Baitunnur ini kan masjid yang sudah cagar budaya ya, yang depan ini kan tidak ,kalau yng tengah ini cagar budaya jadi nanti berkoordinasi dengan kementerian konsepnya seperti apa yang tidak melanggar cagar budaya tersebut,” terangnya.

Untuk plangisasi ini Bupati berharap nanti bisa dilakukan inventarisasi di blora ini ada yang sudah masuk apa belum yang bisa diajukan untuk penetapan masjid bersejarah seperti masjid Baitunnur ini.

“Seperti masjid di Ngadipurwo dekat makam Bupati – Bupati terdahulu itu kan sudah lama ya dan nanti tim bisa kesana dan bisa dilakukan plangisasi karena masjid tersebut juga masjid bersejarah yang ada di blora,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Masjid Agung Baitunnur merupakan masjid yang menjadi pusat penyebaran dan pengembangan agama Islam tertua di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Masjid ini berdiri di sebelah Barat Alun-alun Kota Blora, tepatnya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, yang berdekatan juga dengan kompleks Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.

Masjid ini dibangun pada tahun 1722 dan pelaksanaan pemugaran pertama dilakukan oleh Bupati R.T. Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774 dengan Surya sengkala “Catur Pandhita Sabdaning Ratu”.

Era Orde Baru (1968 dan 1975), masjid kembali dipugar oleh Bupati Supadi Yudhodharmo, yang menambahkan sebuah menara di sisi kiri serambi masjid. Penambahan ini semakin memperkuat identitas Islam Nusantara dalam desain masjid.

Pemugaran terakhir dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Djoko Nugroho dengan Wakil Bupati waktu itu Arief Rohman , yang menyesuaikan dengan kebutuhan modern tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya.***

Komunitas Bumi Budaya Ungkap Fakta “Prasasti Palsu Tapi Asli dari Batu” di Bojonegoro

METRO CEPU – Sebuah temuan prasasti baru di Putuk Kreweng, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi perhatian di kalangan pemerhati sejarah dan budaya.

Komunitas Bumi Budaya menyoroti paradoks yang melekat pada artefak tersebut: “asli” secara fisik sebagai pahatan di atas batu, namun “palsu” dari segi isinya.

Komunitas Bumi Budaya, menyoroti ironi sejarah di mana penemuan prasasti-prasasti awal di Jawa terjadi pada masa ketika masyarakat Jawa telah kehilangan pemahaman mendalam tentang aksara kuno.

Akibatnya, interpretasi sejarah masa lalu seringkali bergantung pada kajian epigraf dari India atau tafsiran sarjana Eropa.

Ketua Komunitas Bumi Budaya, Totok Supriyanto, menjelaskan, Kekosongan pemahaman dari masyarakat Jawa sendiri, sayangnya membuka ruang bagi interpretasi mistis dan irasional terhadap temuan-temuan bersejarah.

“Inilah konteks yang melatarbelakangi munculnya cerita-cerita mistis yang seringkali menyertai penemuan prasasti baru,” kata dia.

Menyikapi temuan di Putuk Kreweng, Komunitas Bumi Budaya menegaskan bahwa secara definisi, artefak tersebut adalah “prasasti” yang otentik karena memuat aksara yang dipahat pada media batu yang keras. Namun, keaslian fisik ini berbanding terbalik dengan keabsahan isinya.

Komunitas Bumi Budaya, meyakini bahwa prasasti ini adalah palsu, kemungkinan besar dibuat tidak lama sebelum ditemukan oleh warga setempat.

Lebih lanjut, Totok mengidentifikasi kesalahan mendasar yang mengindikasikan kepalsuan prasasti Putuk Kreweng.

Pembuat prasasti palsu ini dinilai gagal memahami bahwa masyarakat Jawa modern telah mengalami pergeseran paradigma. Logika kini lebih diterima daripada mistika.

Selain itu, lanjut dia, kesadaran akan periodesasi aksara kuno telah meningkat, dan yang terpenting, semakin banyak individu, termasuk dari kalangan masyarakat Jawa sendiri, yang memiliki kemampuan untuk membaca, menyalin, dan menafsirkan prasasti-prasasti asli secara terbuka dan ilmiah.

Dengan demikian, menurut Totok, temuan “prasasti palsu tapi asli dari batu” di Bojonegoro ini menjadi pengingat penting akan perlunya pendekatan kritis dan berbasis ilmu pengetahuan dalam menafsirkan artefak sejarah.

Komunitas Bumi Budaya mengingatkan, kehati-hatian dan verifikasi mendalam terhadap setiap temuan baru, serta mengapresiasi kemampuan masyarakat Jawa modern dalam mengurai sejarahnya sendiri melalui metode ilmiah yang terpercaya.

“Temuan ini justru menjadi penanda kemajuan literasi dan kesadaran sejarah di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Diinformasikan sebelumnya, dikutip dari Suarabanyuurip.com, dua buah lempengan batu bertuliskan aksara kuno yang mirip Aksara Jawa ditemukan di tempat wisata Puthuk Kreweng, Bojonegoro.

Penemuan ini bermula dari mimpi Kepala Desa Mojodelik, Yuntik Rahayu, yang didatangi sosok pria berkepala ular dan berpesan untuk mengambil benda bersejarah jika muncul di Puthuk Kreweng.

Setelah mimpi tersebut, Yuntik merasa terdorong untuk berziarah ke makam tiga bupati Bojonegoro. Kemudian, saat kerja bakti membersihkan area Puthuk Kreweng, ia melihat batu-batuan di bekas pendapa lama yang longsor.

Setelah diperiksa, ternyata ada dua lempengan batu yang bentuknya berbeda dan bertuliskan aksara yang tidak dikenali oleh Yuntik, meskipun sekilas mirip Aksara Jawa.

Awalnya, batu-batu tersebut akan ditinggal di lokasi, namun karena khawatir hilang, Yuntik membawanya pulang. Penemuan ini kemudian menjadi perbincangan warga dan dilaporkan ke pihak berwenang. Petugas dari Provinsi Jawa Timur telah melakukan pendataan terhadap kedua batu tersebut.

Kepala Desa Mojodelik berharap agar benda bersejarah ini tetap berada di Mojodelik untuk mendukung potensi sejarah desa.***