Arsip Kategori: Sosial Budaya

Prasasti di Mojodelik Bojonegoro Dinyatakan Palsu

METRO CEPU – Sebuah temuan prasasti di kawasan wisata Puthuk Kreweng Desa Mojodelik Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi sorotan. Ada sejumlah kejanggalan terungkap melalui analisis paleografi, material, dan ikonografi.

Tim pendata dari ODCB Provinsi Jawa Timur bersama ahli epigraf BRIN dan hasil geologi menyatakan keraguan terhadap keaslian prasasti yang ditemukan tersebut.

Ahli epigraf BRIN, dari Tim pendata dari ODCB Provinsi Jawa Timur Wilayah Kerja Bakorwil V, Eko Bastiawan menyampaikan rangkuman terkait temuan yang memicu polemik tersebut.

Dikatakannya, lokasi dan Kondisi Temuan yang Tidak Lazim. Prasasti ditemukan di atas permukaan tanah, bukan melalui penggalian arkeologis. “Kondisinya bersih tanpa jejak tanah lempung yang biasanya melekat pada benda purbakala,” kata dia.

Kemudian, material batu yang tidak sesuai dengan geologi lokal. Prasasti ini terbuat dari batu andesit, sementara wilayah Bojonegoro yang masuk dalam zona Pegunungan Kendeng Utara memiliki batuan endemi berbasis gampingan atau kalsit.

Sebagai perbandingan, lanjut dia, prasasti asli di daerah ini, seperti Prasasti Pelem (Purwosari), Prasasti Ngabar, dan Prasasti Sumberarum, semuanya menggunakan bahan lokal. “Keberadaan andesit, yang mungkin berasal dari luar wilayah, mengindikasikan ketidaksesuaian geologis,” ungkap Eko.

Terdapat anehan paleografi dan penanggalan. Prasasti ini memuat angka tahun 630 Saka (708 Masehi), yang merujuk pada era Kerajaan Medang atau Kalingga. Namun, gaya pahatan angka dan aksara menunjukkan ciri khas era Kerajaan Kadiri.

Ahli epigraf BRIN, Eko Bastiawan, menambahkan bahwa penggunaan tanda diakritik seperti “anusvara” (penanda nasal) dan “pangkon” (penanda akhir suku kata) pada baris pertama, serta “ulu” dan pangkon di baris kedua, tidak lazim ditemukan pada prasasti asli periode tersebut. “Ini indikasi kuat bahwa pembuat prasasti kurang memahami kaidah epigrafi Jawa Kuno,” ujarnya.

Dua buah benda yang diduga kuat prasasti palsu, berada di rumah Kepala Desa Mojodelik.

Goresan yang terukir pada prasasti, terlalu baru. Analisis permukaan menunjukkan bahwa goresan aksara dan pahatan terlihat terlalu baru, tanpa tanda pelapukan atau erosi alam.

Hal ini bertolak belakang dengan prasasti asli yang umumnya menunjukkan jejak usia, seperti retakan mikro atau perubahan warna akibat paparan unsur alam.

Selanjutnya, pada prasasti kedua bergambar Garuda Wisnu, yang juga terdapat kesalahan fatal dalam pahatannya: “cakra” (senjata berbentuk cakram), yang seharusnya berada di tangan kanan Dewa Wisnu, justru dipahat di tangan kiri.

Kesalahan simbolis ini bertentangan dengan pakem ikonografi Hindu kuno, menguatkan dugaan bahwa pembuatnya tidak memahami konvensi seni religius masa lalu.

Dengan sejumlah temuan tersebut, Tim pendata dari ODCB Provinsi Jawa Timur menyimpulkan, bahwa diduga kuat ada pemalsuan prasasti.

Untuk diketahui, dikutip dari Suarabanyuurip.com, dua buah lempengan batu bertuliskan aksara kuno yang mirip Aksara Jawa ditemukan di tempat wisata Puthuk Kreweng, Bojonegoro.

Penemuan ini bermula dari mimpi Kepala Desa Mojodelik, Yuntik Rahayu, yang didatangi sosok pria berkepala ular dan berpesan untuk mengambil benda bersejarah jika muncul di Puthuk Kreweng.

Setelah mimpi tersebut, Yuntik merasa terdorong untuk berziarah ke makam tiga bupati Bojonegoro. Kemudian, saat kerja bakti membersihkan area Puthuk Kreweng, ia melihat batu-batuan di bekas pendapa lama yang longsor.

Setelah diperiksa, ternyata ada dua lempengan batu yang bentuknya berbeda dan bertuliskan aksara yang tidak dikenali oleh Yuntik, meskipun sekilas mirip Aksara Jawa.

Awalnya, batu-batu tersebut akan ditinggal di lokasi, namun karena khawatir hilang, Yuntik membawanya pulang. Penemuan ini kemudian menjadi perbincangan warga dan dilaporkan ke pihak berwenang.

Petugas dari Provinsi Jawa Timur telah melakukan pendataan terhadap kedua batu tersebut.

Kepala Desa Mojodelik berharap agar benda bersejarah ini tetap berada di Mojodelik untuk mendukung potensi sejarah desa.***

Peringati Hari Kartini, DWP Kabupaten Blora Tampil Cantik dan Elegan Memakai Kebaya

METRO CEPU – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, sebuah momen sakral untuk mengenang jasa dan perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita.

Tak terkecuali bagi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Blora, peringatan ini menjadi pengingat akan pentingnya peran wanita dalam pembangunan bangsa dan negara.

Sebagai bentuk penghormatan dan perayaan Hari Kartini pada tahun ini, DWP Kabupaten Blora turut serta memeriahkannya dengan cara yang khas dan membanggakan.

Para anggota DWP Kabupaten Blora tersebut tampil elegan dan cantik dalam balutan kebaya, busana tradisional Indonesia yang melambangkan keanggunan dan kelembutan wanita.

Peringatan Hari Kartini yang berlangsung di pendopo rumah dinas Bupati Blora, Senin (21/4/2025) tersebut tidak hanya menampilkan kebaya sebagai simbol fashion, namun juga sebagai representasi dari nilai-nilai luhur budaya Indonesia.

Ketua DWP Kabupaten Blora, Ratnasari Irawadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia, khususnya kebaya, di kalangan anggota DWP dan masyarakat Blora pada umumnya.

Ia juga berharap, semangat Kartini dapat terus menginspirasi para wanita untuk terus berkarya dan berkontribusi positif dalam berbagai bidang.

“Terima kasih kepada ibu-ibu semuanya, luar biasa ibu-ibu tampil hari ini, begitu elegan, begitu cantik dengan busana kita, yaitu kebaya, saya sangat mengapresiasi, dan saya akan beri kesempatan nanti untuk tampil ke depan, bukan fashion show, tetapi parade, kita saling menonton,” ucap Ketua DWP Kabupaten Blora Ratnasari Irawadi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan agenda peringatan Hari Kartini pada tahun 2025 di Kabupaten Blora ini digabungkan dengan agenda lainnya yakni rapat kerja dan halalbihalal. “Tema hari ini adalah Semangat Kartini Dalam Indahnya Silaturahmi,” ucapnya.

Ia menyampaikan peringatan Hari Kartini tidak untuk sekadar dirayakan secara seremonial, kemudian memakai kebaya, kemudian tampil pada parade.

DWP Kabupaten Blora Tampil Cantik dan Elegan Memakai Kebaya

“Tidak ibu-ibu, tetapi jauh dari itu adalah maknanya yang luar biasa. Ibu Kartini adalah pejuang emansipasi wanita. Beliau yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada zamannya itu. Kalau tidak ada beliau, kita-kita yang disini juga tidak bisa seperti ini,” terangnya.

Tentu saja, kita sangat berterima kasih dan bersyukur sekali bahwa Ibu Kartini sudah memperjuangkan emansipasi wanita, khususnya untuk di Indonesia.

“Dan perjuangan beliau (RA Kartini) saya kira tidak hanya berhenti sampai disitu. Ibu-ibu adalah penerusnya, bagaimana menjadi perempuan hebat, perempuan yang mandiri, perempuan yang peduli dengan masalah sosial, perempuan yang punya martabat, berpendidikan tentunya, berwawasan yang luas,” kata Ratnasari Irawadi.

Ia menyebut, RA Kartini, adalah bangsawan yang mempunyai keinginan luar biasa untuk mendobrak adat-istiadat yang pada zamannya sangat-sangat membelenggu, khususnya kaum perempuan.

“Beliau (RA Kartini), mungkin tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak baik, beliau lebih senang berkoresponden, bersurat dengan teman-temannya yang ada di luar sana, sehingga beberapa surat Kartini bisa dibaca oleh Ibu-ibu,” tambahnya.

Dikatakan lebih lanjut, berkaitan halalbihalal bulan Syawal 1446 Hijriah, yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini, Ratnasasi Irawadi menyampaikan mohon maaf lahir dan batin.

“Mata sering sekali salah melihat, hati seringkali salah berprasangka, mulut seringkali salah berucap. Maka pada pagi hari ini, atas nama pribadi dan juga keluarga, atas nama Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Blora, saya mengucapkan selamat Idulfitri 1446 Hijriah, dan saya mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, sebagai bagian peringatan Hari Kartini juga dibacakan sejarah singkat terkait kehidupan dan perjuangan Raden Ajeng Kartini.

Peringatan Hari Kartini tidak hanya menjadi ajang perayaan semata, namun juga sebagai momen refleksi dan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan negara.

Semangat Kartini yang terus berkobar, menginspirasi wanita Indonesia untuk meraih mimpi dan berkarya tanpa batas, tak terkecuali bagi DWP Kabupaten Blora.***

Dukung Wisata Blora: Ikatan Haji Blora 2009 Gelar HalalBihalal di Goa Terawang Ecopark

METRO CEPU – Ikatan Haji Blora yang berangkat ke Tanah Suci Mekah pada tahun 2009 menyelenggarakan halalbihalal sambil wisata dan mempromosikan objek wisata Goa Terawang Ecopark di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Kegiatan halalbihalal itu diselenggarakan guna mempererat tali persaudaraan para Jemaah Haji Blora sekaligus mempromosikan salah satu objek wisata di Blora yaitu Goa Terawang Ecopark.

Ikatan Haji Blora yang menggelar kegiatan halalbihalal di Goa Terawang Ecopark itu merupakan Jemaah Haji Blora Rombongan 9 tahun 2009 yang telah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekah pada tahun tersebut.

“Haji yang diwajibkan hanya satu kali selama hidup. Kebetulan dari kegiatan haji tersebut kami rombongan 9 tahun 2009 Blora, tetap mengikat tali persaudaraan,” drh. H. Gundala Wejasena, di Blora, Sabtu (12/4/2025).

Dijelaskannya, dulu anggota rombongan adalah 40 orang tetapi lambat laun berkurang karena mungkin juga faktor usia yang tidak memungkinkan untuk aktif dan sebagian juga sudah almarhum atau almarhumah, maka sekarang tinggal 13 orang yang aktif.

“Walaupun sedikit tiap dua bulan sekali kami melakukan pertemuan yang diisi dengan tahlil, doa, dan lain-lain seperti arisan. Dan kebetulan pertemuan kali ini yang mestinya di rumahnya ibu Hajjah Yayuk Didik, tetapi kali ini diadakan di Gua Terawang sesuai dengan permintaan anggota,” terangnya.

Tentu saja ini merupakan bagian yang ikut meramaikan dunia wisata di Kabupaten Blora.

“Gua Terawang yang dulu hanya ramai saat Idulfitri, sekarang telah menjadi viral. Tiap hari banyak orang yang berkunjung di sana. Baik itu dari dalam kabupaten Blora, tetangga Kabupaten, maupun dari luar provinsi,” ujarnya.

Ia pun mengakui, ada beberapa hal yang berbeda dari Gua Terawang dulu dan sekarang.

“Sudah banyak inovasi yang menarik bagi para pengunjung termasuk fasilitas-fasilitas yang ada,” tuturnya.

Selain gua dibuat tetap asli sesuai dengan pelestarian lingkungan, beberapa fasilitas seperti adanya lampu penerangan di dalam kemudian kopi dan makanan kecil snack juga ada. Toilet yang disediakan juga cukup bersih dan perlu dipertahankan. Yang mau salat juga tersedia musala.

Bagi yang ingin berwisata pakai Jeep tersedia di situ, mengelilingi hutan di sekitar Gua Terawang, selain itu juga mobil-mobilan kecil barangkali untuk anak-anak, juga kolam kecil untuk anak-anak.

Selain sambutan dari pramuwisata yang ada yang ramah dan cantik-cantik, para pengunjung juga disambut oleh monyet yang juga ramah dan suka bila diberi makan kacang bahkan anak balita pun berani memberikan kacang kepada seekor monyet.

“Tapi orang tua tetap harus waspada lho, jangan sampai anaknya dibawa lari monyet,” ungkapnya.

Kegiatan yang dilakukan itu saah satu wujud kepedulian dari kelompok haji rombongan 9 tahun 2009 Blora terhadap keberadaan wisata di Kabupaten Blora. “Semoga wisata di Blora semakin maju,” tandas drh. H. Gundala Wejasena.***

Halal Bihalal Warga Panolan, Rajut Kasih Sayang dan Perkuat Syiar Islam

METRO CEPU – Suasana kebersamaan terasa hangat di Masjid Subulussalam, Desa Panolan, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, pada Selasa malam 8 April 2025.

Pemerintah Desa Panolan bersama Takmir Masjid Subulussalam menggelar kegiatan Halal Bihalal dan Silaturahmi Warga.

Acara yang dimulai selepas isya ini dihadiri oleh ratusan warga dari berbagai dukuh di Desa Panolan.

Lantunan hadroh dari grup Nababa El Buthun membuka acara dengan nuansa religius yang khidmat.

Halal bihalal ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan secara bergiliran antar masjid di desa.

Tahun ini, Masjid Subulussalam menjadi tuan rumah dengan mengangkat tema “Kumpul Kudu Kempel, Awor Dadi Akor.”

Kepala Desa Panolan, H. Kurmaeni Kurniawan, dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga.

“Atas nama pemerintah desa, kami mohon maaf apabila ada kesalahan selama kami bertugas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah desa dan lembaga masjid.

“Semoga Masjid Subulussalam semakin semarak dalam syiar Islam dan lebih maju dalam berdakwah,” harapnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Subulussalam, H. Rohmat, menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak.

“Kami ucapkan terima kasih atas kehadiran bapak ibu serta kerja keras panitia,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi peran ibu-ibu yang telah menyumbang sajian berupa minuman dan snack.

“Mari ikuti kegiatan ini dengan keikhlasan agar menjadi amalan terbaik kita,” tambahnya.

H. Rohmat juga mengingatkan pentingnya mengamalkan isi QS An-Nahl ayat 92 sebagai pedoman hidup bersama.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh KH. Asfiror Ridwan dari Bojonegoro.

Dalam ceramahnya, beliau menekankan makna sejati dari halal bihalal sebagai media mempererat kasih sayang.

“Halal bihalal yang baik itu, orang tua memberi maaf, dan yang muda meminta maaf,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses itu idealnya dilakukan secara langsung agar menyentuh hati.

“Dengan begitu, akan tumbuh rasa kasih sayang di antara kita setelah halal bihalal,” pungkasnya.

Kapolres Blora Sambang Kamtibmas Ramadan, Sentuh Pekerja Sektor Informal

METRO CEPU – Di tengah suasana bulan Ramadan yang penuh berkah, Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, menunjukkan kepeduliannya dengan menggelar kegiatan Sambang Kamtibmas Ramadan.

Kegiatan ini menyasar warga di wilayah Kota Blora, terutama para pekerja keras di sektor informal, pada Senin 10 Maret 2025.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolres Blora menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud kepedulian terhadap sesama yang akan terus berlanjut, tidak hanya di bulan Ramadan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kegiatan kemanusiaan seperti ini adalah bagian dari komitmen Polres Blora untuk hadir di tengah masyarakat,” ujar AKBP Wawan Andi Susanto.

Selain sebagai bentuk bantuan sosial, kegiatan ini juga bertujuan untuk memupuk rasa peduli dan kepekaan sosial di kalangan anggota Polres Blora.

Kapolres menekankan pentingnya kepekaan sosial bagi setiap anggota kepolisian agar dapat lebih dekat dengan masyarakat.

Dengan berbagi kepada sesama, diharapkan hubungan antara polisi dan warga semakin harmonis.

Seorang penerima bantuan, Sukardi, 53 tahun, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas perhatian yang diberikan.

“Terima kasih kepada Pak Kapolres dan jajaran Polres Blora. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, apalagi di bulan Ramadan seperti sekarang,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kepolisian tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga aktif dalam aksi kemanusiaan.

Komunitas SoBojonegoro Gelar Trip History Padangan Heritage

METRO CEPU – Sebagai upaya memperkenalkan sejarah dan warisan budaya Kabupaten Bojonegoro, Komunitas SoBojonegoro sukses menggelar kegiatan Trip History Padangan Heritage pada Sabtu 8 Maret 2025.

Sebanyak 30 peserta dari berbagai daerah mengikuti perjalanan ini dengan penuh antusias.

Mereka diajak menyusuri berbagai lokasi bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi, seperti Pusat Informasi Geopark (PIG), Situs Kapal Besi di Ngraho, Makam Mbah Sabil di Kuncen, Kantor Pegadaian Lama, Pasar Lama Balekambang, Polsek Padangan (Bangunan Lama), dan Rumah Tua Padangan Heritage.

Selama perjalanan, para peserta mendapat penjelasan langsung dari narasumber mengenai sejarah dan keunikan tiap lokasi.

Diskusi interaktif pun berlangsung seru, dengan peserta yang aktif bertanya dan berbagi wawasan.

Kegiatan ini juga menjadi momen kebersamaan di bulan Ramadhan, karena setelah perjalanan sejarah, acara ditutup dengan buka puasa bersama di Padangan.

Dalam suasana hangat, para peserta menyampaikan kesan dan harapan agar kegiatan eksplorasi sejarah seperti ini terus dilakukan di masa mendatang.

Koordinator acara, Muhammad Andrea, berharap bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan rasa bangga terhadap Bojonegoro serta mendorong kesadaran untuk melestarikan warisan budaya lokal.

“Semoga perjalanan ini semakin membuka mata masyarakat tentang pentingnya menjaga sejarah dan heritage yang kita miliki. Bojonegoro punya banyak kisah yang menarik untuk digali dan dipelajari,” ujarnya.

Dengan adanya Trip History Padangan Heritage, Andrea berharap, semakin banyak orang yang tertarik untuk mengenal dan melestarikan sejarah Bojonegoro, menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisata edukatif di masa depan.

GRIB Jaya PAC Cepu Gelar Jumat Berkah Di Plaza Mustika dan Tuk Buntung

METRO CEPU – Pengurus Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya PAC Cepu DPC Kabupaten Blora, menggelar kegiatan Jumat Berkah pada Jumat 21 Februari 2025 pagi. Acara tersebut digelar di seputar Tuk Buntung dan plaza Mustika Cepu.

Ketua GRIB Jaya PAC Cepu Agus Suyoko melalui humas H. Mugiyanto mengungkapkan, kegiatan ini untuk sedikit meringankan beban masyarakat kalangan bawah khususnya di wilayah Cepu dan sekitarnya.

” InsyaAllah Jumat Berkah ini akan dilaksanakan setiap hari Jumat dengan titik pembagian berbeda-beda,” ujar Mugiyanto atau yang akrab dipanggil Pak Jo Blerong.

Ratusan nasi bungkus tersebut, dibagikan kepada tukang becak, tukang parkir dan warga lain yang membutuhkan.

“Kedepan kegiatan Jumat Berkah ini lebih ditingkatkan. Bukan hanya di wilayah perkotaan tapi juga di wilayah pedesaan. Seperti di pasar Mulyorejo atau Pasar Induk Cepu. Kami ingin menjaga kondusifitas wilayah Cepu dengan menggandeng semua unsur,” imbuhnya sambil berharap anggota GRIB Jaya PAC Cepu untuk meningkatkan kedisiplinannya.

Wulan salah satu warga Cepu menuturkan dengan adanya Jum’at Berkah GRIB Jaya PAC Cepu bisa membantu masyarakat.

” Alhamdulillah GRIB bisa berbagi dan membantu warga Cepu dan sekitarnya.
Kalau bisa setiap Jumat diaksanakan terus menerus dan rutin,” ujar Wulan. ***

Gunung Pandan, Situs Arkeologi Penting dalam Mengungkap Sejarah Peradaban Jawa 

METRO CEPU – Gunung Pandan, yang terletak di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur, selama ini dikenal sebagai destinasi pendakian yang menawarkan keindahan alam yang menawan.

Namun, di balik keindahan alamnya, gunung ini ternyata menyimpan rahasia sejarah yang sangat menarik.

Berbagai penemuan artefak kuno mengindikasikan bahwa Gunung Pandan pernah menjadi pusat peradaban kuno yang cukup signifikan.

Baru baru ini dari komunitas Bumi Budaya membagikan dokumentasi hasil ekspedesi susur situs bersejarah di Gunung Pandan, Bojonegoro beberapa bulan lalu.

Artefak ini adalah sebuah gambaran menarik pada kehidupan masa lalu. Salah satu temuanya adalah fragmen artefak dengan ukiran special khas , tebuat dari terkakota atau tanah liat.

Makna spiral pada ukiran ini sering dikaitkan dengan aspek spiritual dan budaya masyarakat kuno.

Temuan ini mengungkapkan betapa pentingnya seni ukir dalam kehidupan mereka baik sebagai ekspresi religius maupun estetika.

Artefak ini memiliki potensi besar untuk memberikan wawasan tentang kepercayaan gaya hidup dan teknologi peradaban masa lalu.

Pola ukirannya yang simetris dan berulang menunjukkan keterampilan seni masyarakat pada masanya.

Ornamen spiral ini juga memiliki simbolis yang sering dikaitkan dengan kesuburan fragmen tersebut.

Artefak tersebut kemungkinkan merupakan bagian dari objek yang lebih besar seperti elemen arsitektur atau benda seremonial.

Berdasarkan gaya ukirannya artefak ini diperkirakan berasal dari peradaban Jawa abad ke-12 hingga ke-13 yang mungkin terkait dengan era kerajaan Hindu – Budha.

Pada masa Medang atau Majapahit ornamen seperti ini sering ditemukan pada struktur candi atau tempat keagamaan lainnya.

Fragmen tembikar berukir sulur serta menyerupai hiasan dari sebuah struktur bangunan keagamaan.

Penemuan-penemuan artefak kuno ini semakin memperkuat dugaan bahwa Gunung Pandan pernah menjadi pusat peradaban kuno.

Beberapa teori menyebutkan bahwa Gunung Pandan merupakan pusat keagamaan atau bahkan sebuah kerajaan kecil.

Letaknya yang strategis di tengah-tengah pulau Jawa membuat Gunung Pandan menjadi tempat yang sangat penting bagi jalur perdagangan dan komunikasi pada masa lalu.

Meskipun penemuan-penemuan ini sangat berharga bagi dunia ilmu pengetahuan, namun upaya untuk melestarikan situs-situs purbakala di Gunung Pandan masih menghadapi banyak tantangan.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan para ahli untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya.

Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap semua rahasia yang tersimpan di Gunung Pandan.

Gunung Pandan bukan hanya sekadar gunung biasa, tetapi juga merupakan jendela untuk melihat masa lalu.

Dengan terus melakukan penelitian dan upaya pelestarian, kita dapat lebih memahami sejarah dan kebudayaan nenek moyang kita. ***

Sumber : Instagram @bojonegorohistory x @bumibudaya, Kajian Komunitas Bumi Budaya